KARAWANG, Spirit – Gedung Sekolah Dasar Negeri (SDN) Nagasari VI di Kelurahan Nagasari, Kecamatan Karawang Barat, alami kerusakan cukup parah. Diduga kerusakan akibat amblasnya konstruksi bangunan akibat tanah yang labil.



Dampak atas kerusakan tersebut, sekitar 9 ruang kelas terpaksa harus dikosongkan.

Kepala SDN Nagasari VI, Yani Sumiati menjelaskan kondisi tersebut terjadi sudah cukup lama, dari sekitar akhir bulan Desember tahun 2019.

“Kejadiannya sudah lama, akhir tahun 2019 pak, untuk menghindari hal yang tidak diinginkan 9 kelas kita sudah kosongkan,” ujarnya, saat diwawancara spiritjawabarat.com, Jumat (2/10/2020).

Masih menurut Yani, kerusakan 9 ruang kelas tersebut berupa retakan-retakan yang terlihat di sejumlah titik pada tembok bangunan dan lantai yang menjadi bergelombang.

“Bangunan sekolah ini sudah cukup lama, katanya sih dari tahun 2010, dari sebelum saya menjabat Kepala Sekolah di sini. Tidak tau juga bangunan bisa jadi begini, mungkin tanahnya yang labil, jadi kontruksinya amblas,” terangnya.

Lebih lanjut ia juga mengaku sudah berupaya menyampaikan persoalan ini kepada pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karawang, dan hasilnya akan dilakukan perbaikan yang menggunakan APBD II tahun 2020.

“Kita sudah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan, Alhamdulilah semua responnya cepat, sampai-sampai dari DPRD datang dan melihat langsung kondisi gedung sekolah ini,” jelasnya.

“Tadinya akan segera diperbaiki tahun 2020, tapi mungkin karena keuangan Pemda saat ini, akibat Covid-19, jadi urung, karena kan ini bukan uang yang sedikit, ditaksir bisa menghabiskan anggaran hingga Rp. 1,5 miliar, 3 lantai soalnya ini,” timpalnya.

Dalam kesempatan itu Yani mengajak spiritjawabarat.com untuk melihat ruang kelas yang rusak, dari lantai satu sampai lantai tiga, saat berada di setiap lantai yang mengalami kerusakan sangat terasa getarannya, dan berpotensi roboh.

Atas dasar itu Yani berharap kepada Pemkab Karawang agar dapat secepatnya memperbaiki gedung sekolah yang dikepalainya itu, khawatir kondisi ini akan berdampak kepada proses belajar mengajar.

“Untung saja saat uni proses belajar mengajar dengan cara daring, jadi ruangan tidak dipergunakan siswa, kalau sudah mulai lagi belajar tatap muka bisa repot juga, makanya kami meminta kepada Pemkab Karawang untuk segera memperbaiki sekolah kita,” tandasnya. (bal)