Oleh: Dr. Ruslan Abdul Gani, M.Pd
(Dosen Universitas Singaperbangsa Karawang)

PENDIDIKAN merupakan elemen penting bagi manusia sebagai identitas diri di masyarakat, masyarakat akan dapat mengetahui sikap dan etika seseorang dari tingkat jenjang pendidikannya, karena sejatinya pendidikan mengajarkan manusia untuk bisa berprilaku sopan, bertutur kata baik dan bertindak sesuai dengan aturan dan memberikan keputusan secara bijaksana. Dalam pendidikan ada pilar yang harus dijunjung tinggi menurut Ki Hajar Dewantara yaitu, ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, dan tut wuri handayani, dari ketiga pilar pendidikan ini apabila dijalankan maka akan membentuk manusia yang memiliki budi pekerti yang baik.

Berkaitan dengan budi pekerti pendidikan jasmani merupakan mata pelajaran di sekolah yang mampu memberikan perubahan yang sangat besar pada diri peserta didik, karena dalam pendidikan jasmani semua aspek kemampuan ada dalam setiap proses pembelajarannya di antara aspek kognitif, aspek afektif, dan aspek psikomotorik yang sangat nyata dilakukan, kalau dipresentasikan ketiga aspek tersebut 20% aspek kognitif, 20% aspek afektif dan 60% aspek psikomotorik. Pendidikan jasmani merupakan bagian integral dari sistem pendidikan di Indonesia, pendidikan jasmani bagian dari pendidikan jadi bidang pendidikan jasmani berbeda kajiannya dengan bidang pendidikan olahraga, karena pendidikan jasmani lebih menekankan pada perubahan secara holistik pada semua komponen sistem yang ada pada manusia, dari mulai komponen kebugaran jasmani siswa, fisiologi dan anatomi siswa yang semuanya harus tumbuh dan berkembang seiringan dan seimbang. Sedangkan pendidikan olahraga masih ada unsur kompetisi di dalamnya, jadi ini yang membedakannya, walaupun di Indonesia banyak yang mengatakan pendidikan olahraga yaitu pendidikan jasmani, padahal sangat berbeda tetapi saling mendukung dalam hal proses pembinaan siswa yang berbakat secara kemampuan motoriknya.

Proses pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah masih sangat kurang terlihat dari kurikulum dan silabus yang ada di tiap jenjang sekolah. Untuk tingkat SMA dilakukan dalam seminggu 2×45 menit, untuk jenjang SMP dilakukan 2×40 menit, dan untuk jenjang SD dilakukan dalam seminggu 2×35 menit, jadi hanya 1 minggu sekali mata pelajaran penjas di sekolah. Kondisi seperti ini tidak akan meningkatkan derajat bugar bagi siswa. Derajat bugar akan terlihat apabila dilakukan 3 kali dalam seminggu ini menurut penelitian. Ironis sekali melihat proses pendidikan jasmani di sekolah seolah tidak penting padahal pendidikan jasmani adalah elemen penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

Penulis melakukan wawancara dengan salah satu tokoh Sunda di Kabupaten Karawang bahwa filosofi hidup orang Sunda itu di antaranya adalah cageur, bageur, bener, singer, pinter. Kalau kita lihat urutan yang pertama adalah cageur artinya sehat, kedua bageur artinya baik orangnya, bener artinya benar dalam bertindak dan singer artinya cekatan dan pinter artinya pintar. Jadi posisi pertama adalah sehat dulu artinya kalau tubuh kita sehat maka segala kegiatan yang kita lakukan akan optimal.

Fakta yang kita lihat di lapangan khususnya di Indonesia ini yang menjadi urutan pertama adalah pinter, jadi lebih kepada pengetahuannya dulu, derajat sehat dan etikanya kurang menjadi prioritas utama, yang pada akhirnya sekarang terlihat anak-anak milenial sekarang kurang memiliki etika dan kesopanan serta derajat sehat yang bagus (good attitude and healthy). Ini harus menjadi perhatian penting bagi pemerintah dalam mengembalikan ciri orang Indonesia yang ramah, sopan dan beretika serta mencintai kearifan lokal budaya dan gemar melakukan aktifitas fisik atau orang jaman dulu namanya gerak badan sebelum beraktifitas ke ladang atau bekerja di kantor. Harus segera diperbaiki sistem pendidikan jasmani di Indonesia agar dapat memberikan kontribusi besar bagi perkembangan manusia Indonesia seutuhnya menuju Indonesia sehat, berbudaya dan mencintai kearifan lokal. (*)