KARAWANG, Spirit

Sejak Sabtu dini hari, kebutuhan pokok komoditas daging sapi di sejumlah pasar Karawang, sudah mulai turun. Wakil pengurus Asosiasi Pengusaha Daging dan Sapi Potong Indonesia (Apdasi) Karawang, Jujun menyebutkan, harga daging sapi sudah berangsur turun di kisaran Rp 110 ribu per kilogram.
“Sejak malam dini hari (Sabtu) sudah stabil dari Rp 120 ribu sekarang sudah sampai Rp 110 perkilogram,” ujarnya, Sabtu (23/1).
Jujun mengakui, kenaikan harga daging diangka Rp 120 ribu kemungkinan karena adanya rencana pengenaan pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar 10 persen. Sehingga, hal tersebut menyebabkan merosotnya angka beli konsumen di sejumlah pasar di Karawang.
Dia juga mengatakan, dalam sehari sebelum daging sapi naik harga, dia bisa menjual 3 kuintal atau 300 kg daging sapi. Akan tetapi sekarang untuk satu kuintal pun dinilainya belum tentu habis ketika harga naik.
“Rata-rata pembeli kita adalah 70 persen tukang bakso, kalau tukang bakso tidak ada kita pasti habis. Untuk penjual bakso sendiri kita jual saat ini Rp 105 ribu perkilogram, ” ujarnya.
Menurut Jujun, upaya pemerintah untuk menekan harga daging harus dibarengi dengan kebutuhan lainnya yang turun. Selain itu juga adalah ketersedian stok ternak yang harus dapat terpenuhi.
“Kemarin di beberapa daerah mogok terkait stok ternak, namun di Karawang sendiri tidak melakukan mogok, karena pedagang masih menyimpan beberapa stok, meski harganya kita naikan dikit waktu itu, guna stabilitas harga normal,” ucapnya.
Jujun menyebutkan, ketika PPN sebesar 10 persen diberlakukan, dia menganggap akan berpengaruh terhadap harga daging di pasaran. Pasalnya, para pedagang akan mengikuti harga sesuai dengan PPN tanpa memengaruhi harga jual bersihnya.
“Misalnya para pedagang dengan modal Rp 97 ribu per kilo, tentu untuk menutupinya tinggal ditambah pajak, akan tetapi harga bersihnya tetap. Sehingga pengaruhnya kepada harga jual kembali terhadap konsumen,” ucapnya.
Sempat terkontrol
Jujun menceritakan, harga daging sapi masih terkontrol sebelum 1995 dengan harga daging hanya Rp 45 ribu per kilogram dan paling mahal Rp 65 ribu per kilogram. Akan tetapi sejak tahun itu dan seterusnya, dengan keadaan ekonomi Indonesia tidak menentu menurut, menyebabkan harga daging sapi terus meroket naik hingga saat ini.
“Kalau kita lihat untuk turun sendiri seperti janji Pak Jokowi saat itu sangat sulit. Minimal Pak Presiden sendiri dapat menempatkan harga daging diangka stabil,” katanya.
Dirinya berharap, pemerintah dapat menemukan solusi yang tepat untuk membuat stabil harga daging. Solusi terpenting adalah pengaruh harga pokok lainnya harus seimbang. Selain itu juga adalah tentang stok daging harus ada dan untuk itu tugas pemerintah.
“Kita melihat khususnya di Karawang sendiri masih menggunakan peternak sapi dari luar kota,” katanya (cr2)