RENGASDENGKLOK, Spirit



Pembangunan infrastruktur seperti pemagaran dan pengurugan di SMPN III Rengasdengklok, yang dibiayai oleh pemerintah baru-baru ini, di sambut baik oleh masyarakat setempat terutama wali murid sekolah tersebut. Dan tentunya pembangunan tersebut diharapkan akan membawa dampak yang positif untuk proses Kegiatan Belajar dan Mengajar. Namun pada kenyataannya malah sebaliknya pasalnya pembangunan tersebut dikerjakan asal jadi dan sampai saat ini pembangunan belum selesai sepenuhya. Pemerintah terkesan tutup mata dan tak nampak adanya pengawasan.


Masyarakat sekitar pun menyayangkan pembangunan pemagaran dan pelaksanaan pengurugan halaman sekolah tersebut dikerjakan oleh kontraktor abal-abal (palsu-red).

Hal tersebut dibenarkan oleh Danim salah seorang anggota Komite Sekolah di SMPN III Rengasdengklok, ia mengatakan, sangat prihatin dengan pembangunan pemagaran di sekolah yang tak sesuai dengan apa yang diharapkan dan sesuai dengan apa yang telah ditentukan sebelumnya. Sehingga air dari aliran pesawahan masih bisa masuk ke dalam halaman sekolah.

“Dengan adanya pemagaran itu, berharap air dari sawah tidak mengalir kedalam halaman sekolah, setelah dibangun kok air masih mengalir ke halaman sekolah. Ya memang tidak percuma, tapi tidak sesuai dengan apa yang diharapkan,” ungkapnya kepada awak media Jumat (8/2).

Masih kata Danim, jika dilihat dari luar pondasi nampak tidak digali, karena batu pondasi paling bawah terlihat hanya menempel. Pembangunan tersebut pun belum selesai sepenuhnya, kontraktor pun sampai saat ini tak ada kabar beritanya.

“Tuh sisa materialnya juga masih ada, batu-batu untuk ditempelkan di atas sebagai asesoris pagar itu, belum di pasang. Saya sendiri tidak tahu nama CV atau PT kontraktor tersebut karena tidak memasang papan nama, bahkan tidak ada yang tahu anggaran dari mana dan berapa anggarannya,” kata Danim agak kebingungan.

Ditambahkan salah seorang guru di sekolah tersebut, yang tida mau dikorankan namanya. mengatakan, Bukan hanya pemagarannya saja, akan tetapi pengurugan halaman sekolah tersebut juga sangat mengecewakan.

“Karena awalnya memakai tanah lumpur kaya tanah dari sawah, setelah itu baru di urug memakai tanah merah sehingga hasilnya malah tambah becek, mereka tidak memikirkan kwalitas tapi hanya memikirkan bagaimana caranya bisa untung besar,” ketusnya.

Sementara itu saat berusaha di hubungi oleh Spirit Jawa Barat, kepala SMPN III Rengasdengklok belum bisa dihubungi untuk memberikan keterangannya.(dar)