Oleh: Dr. Asep Saripudin, S.H.M.H

Dosen Tetap FH Unsika Karawang

SOCRATES mengatakan Knowledge is a Key for Better life, Ilmu Pengetahuan menjadi sebuah kunci untuk kehidupan yang lebih baik. Perbaikan kualitas hidup menjadi tujuan  bagi setiap  individu atau  masyarakat bahkan negara. Dalam skala negara, kualitas hidup warga negara atau capaian ekonomi setiap negara sebagian diantaranya diwakili dengan simbol angka-angka, misalnya angka income per capita yang tinggi, angka harapan hidup yang tinggi, angka kematian yang rendah,  angka kelahiran  yang terkendali, angka sumber devisa negara yang tinggi. Negara melakukan strategi pembangunan fisik dan non fisik. Secara fisik perbaikan infrastruktur menjadi  lokomotif penggerak bagi bergeraknya pembangunan, infra struktur jalan yang baik, akan mampu menjawab dan mengurai lahirnya kemacetan. Kemacetan menjadi biaya yang besar, jika dihitung secara detil bagaimana besarnya ongkos penggunaan bahan bakar kendaraan  pengangkut  raw material atau pengangkut barang hasil produksi yang terlambat sampai tujuan disebabkan persoalan yang timbul dari rusaknya infrastruktur jalan. Jika penggunaan bahan bakar kendaraan yang terbuang karena terjebak macet diakumulasikan, maka  terdapat sejumlah biaya terbuang  tanpa diikuti dengan pergerakan pengangkutan raw material  yang diperlukan atau distribusi barang (Produk) , ini adalah sesuatu yang tidak efisien. Disinilah peran infrastruktur yang baik akan memberikan sumbangsih bagi lancarnya distribusi logistik, baik dari sumber raw material ke tempat pengolahan, ataupun barang pasca produksi yang akan didstribusikan ke tempat lainnya.

Pembangunan infrastruktur adalah salah satu tugas besar negara untuk dapat melengkapinya, ketersediaan infrastruktur akan berelasi dengan daya tarik bagi sebuah negara untuk menjadi lahan subur investasi khususnya direct investment. Hadirnya investasi menjadi energi penggerak tambahan bagi tugas besar negara dalam membangun negara. Jumlah penduduk yang tinggi, luasnya wilayah geografis,  tentunya membutuhkan modal yang tidaklah sedikit dalam membangunnya. Keterbatasan anggaran seiring dengan keterbatasan didalam mengkreasikan  sumber pendapatan negara, menjadi tantangan yang tinggi bagaimana caranya memaksimalkan, dan mendorong tingkat pendapatan yang tinggi. Tentu bukan dengan sekadar hanya membebankan kepada pungutan yang dibebankan kepada setiap wajib pajak. Tetapi  bagaimana menciptakan sumber pendapatan negara dengan melakukan perluasan sumber pendapatan. Keunggulan negara kita bukan hanya bertumpu pada harga tenaga kerja yang murah atau pun karena harga lahan yang murah jika dibandingkan dengan negara negara lainnya. Namun bagaimana meningkatkan kualitas sumberdaya manusia dengan kualifikasi keahlian yang berelasi dengan pendidikan yang telah menghasilkan  kualitas tenaga kerja. Disinilah perlunya pembangunan human capital, pembangunan sumber daya manusia yang membuat kualitas manusia kita memiliki daya saing bila dibandingkan dengan negara lainnya. Bisa jadi negara Indonesia  menjadi tujuan investasi Tesla dalam pembangunan  pabrik mobil elektrik  bukannya India, dengan pertimbangan tenaga kerja Indonesia memiliki kualifikasi kemampuan yang lebih dari India.

Bagaimana cara meningkatkan kualitas manusia Indonesia agar lebih berdaya saing dalam persaingan pasar global ? Universitas sebagai produsen human capital, menjadi pabrik yang akan menghasilkan kualitas manusia unggul, bagaimana proses pendidikan, materi yang diberikan,  penguasaan literasi non lokal menjadi sarana yang efektif untuk dapat memperkaya pola dan kualitas fikir.  Kualitas berfikir akan mendorong pada kualitas bertindak, maka pembenahan iklim pendidikan di lingkungan Universitas dengan mengusung slogan kampus  merdeka sebagai langkah awal yang mampu meluaskan wilayah berfikir  mahasiswa. Tentu bukan hanya mahasiswa, tetapi Dosen selaku instrumen penghantar dan penyemangat, role model bagi mahasiswanya harus mampu memperkaya wilayah berfikirnya terlebih dahulu. Berfikir Merdeka di Kampus Merdeka, menjadi pendekatan yang akan menguatkan kekuatan berfikir  mahasiswa lewat pendekatan multidisipliner dengan tetap mematangkan penguasaan keilmuan yang bersifat spesialisasi. Pendekatan multi disipliner akan menggairahkan lingkungan berfikir, menggairahkan upaya penggalian ilmu pengetahuan, penguasaan dan pendalaman lebih hakiki atas makna substansial keilmuan.

Penguasaan keilmuan yang didorong oleh kegairahan dalam penguasaan ilmu, bukan hanya mengejar IPK, menjawab soal UAS atau UTS, menyelesaikan tugas penelitian dan pengabdian yang terakumulasi dalam tumpukan kertas yang enggan untuk dibuka  kembali. Tetapi kegairahan yang mendorong dinamisnya kampus sebagai pabrik pengetahuan, pabrik yang akan menggairahkan iklim berpengetahuan, menggairahkan iklim penelitian, menggairahkan iklim haus akan literasi non lokal. Literasi non lokal yang berada di Barat sebagai rangkaian proses peradaban manusia bukanlah hal yang tabu dan bukan barang yang haram untuk ditransfer kedalam alam pemikiran kita di Timur, bahkan para pemikir besar seperti Roostow telah mencoba merangkai bagaimana pertemuan antara timur dan barat ( Meet between East and West). Barat punya kegairahan untuk mengetahui secara fisik dan kekuatan timur ada pada jiwa, maka akan menjadi paripurna ketika kekuatan jiwa timur bisa dikolaborasikan, diharmonikan dengan kegairahan penguasaan dan penemuan-penemuan secara fisik.

Bukanlah peniadaan nasionalisme, ketika orientasi pendidikan yang terbaik di Barat bisa diambil dan diadaptasikan dengan nilai-nilai ketimuran. Inilah konteks berfikir merdeka di Kampus Merdeka. Kampus yang menjadi penggairah, kampus yang menjadi pendongkrak dan pendorong kecintaan pada penguasaan ilmu pengetahuan, kecintaan pada upaya penelitian dengan menggunakan metode ilmiah. Karena metode ilmiah ditetapkan untuk sebuah perjalanan penguasaan ilmu  untuk merespon hal yang bersifat praktis dalam dinamisasi kehidupan manusia. Bagaimana penguasaan teori yang substansial dalam wilayah fikir diturunkan untuk merespon hal yang bersifat praktis dalam kehidupan manusia yang senantiasa bergerak dengan berbagai temuan temuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin meningkatkan kualitas hidup manusia.

Josef Kohler sebagai seorang filosof hukum besar mengatakan pemahaman hukum yang lebih tinggi  bertujuan untuk meminimalisasi hal-hal yang bertentangan dengan budaya. Dalam konteks pemikiran Josef kohler terdapat dua kualifikasi budaya, budaya estetika dan budaya produksi. Budaya produksi kaitannya dengan temuan-temuan dibidang ilmu pengetahuan yang menyempurnakan tugas manusia untuk dapat hidup sebagai pemenang dalam mengelola alam, mengelola alam  dengan tidak over  exploited, dengan tetap menjaga aspek-aspek keberlanjutan dalam pembangunan. Maka pemahaman hukum yang lebih tinggi menjadi penggerak laju reaksi terlahirnya berbagai temuan-temuan dan penguatan Ilmu Pengetahuan Berbasi Ilmu Pengetahuan (Knowledge Based Economy). Dikampus Merdeka dengan berfikir Merdeka diharapkan melahirkan berbagai pemikiran hukum yang lebih tinggi, untuk dapat mereduksi hal yang bertentangan dengan penguatan dan penguasaan budaya produksi. Pemikiran hukum yang tinggi terlahir dari input pemikiran yang tinggi, konsumsi referensi yang meluas bukan hanya lokal (nasional) namun non lokal (literasi barat). Pemikiran hukum yang tinggi akan menggairahkan pembelajaran hukum di Kampus Merdeka. Selamat datang di era berfikir merdeka dalam komunitas kampus merdeka, Merdeka….! (*)