KARAWANG, Spirit



Dua pekan berlalu, semenjak adanya pengaduan telah terjadinya tindakan pelecehan seksual yang dilakukan seorang oknum guru honorer terhadap sejumlah siswa di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1, Satu Atap (Satap) Cibuaya. Dan hingga kini tak ada respon dan tindakan tegas dari pihak sekolah yang bersangkutan dan pemerintah kabupaten Karawang, yang akhirnya menimbulkan kekhawatiran dan pertanyaan tersendiri dari seorang pemerhati kebijakan Pemerintah Kabupaten Karawang, Ridwan Alamsyah.

Menurutnya Pemerintah Kabupaten Karawang, melalui Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) dirasa belum melakukan tindakan yang konkrit dan terlihat tutup mata dalam penanganan dan pencegahan kekerasan terhadap anak khususnya yang telah terjadi di SMPN 1 Satap Cibuaya.

“Selama 10 tahun oknum guru tersebut melakukan aksinya, setelah diketahui, apa yang telah atau akan dilakukan pemerintah kabupaten terhadap para korban. Saya lihat belum ada, dan kasus ini cenderung akan perlahan hilang ditelan waktu,” kata Ridwan Alamsyah, yang diketahui juga seorang praktisi pendidikan tersebut, kepada awak media,  Jumat (4/10).

Masih menurutnya, dengan tenggang waktu yang begitu lama bagi oknum guru tersebut melakukan aksinya, diyakininya tak sedikit jumlah anak yang telah menjadi korban pelecehan seksual dan intimidasi oknum guru bejat tersebut.

“Selain menjadi tanggungjawab sekolah dan keluarga yang saya yakini juga awam dalam hal ini, anak-anak korban ini dalam penanganan psikologis mereka pasca kejadian dipastikan butuh perhatian Pemkab melalui P2TP2A,” ujarnya.


Ridwan Alamsyah

Dirinya pun mendesak Pemkab Karawang melalui P2TP2A segera turun tangan dalam peristiwa yang terjadi di SMPN 1 Satap Cibuaya tersebut walaupun belum ada laporan resmi dari para korban atau keluarganya mengingat apa yang telah terjadi terhadap para korban akan berdampak di kemudian hari.

“Layaknya virus penyakit yang menular, pandangan seks oknum guru tersebut dikhawatirkan menular kepada para korban. Terkait proses hukumnya kita bisa menunggu perkembangan dari pihak keluarga korban akan bagaimana nantinya,” pungkasnya.

Ditempat berbeda Kepala Desa Sedari, Kecamatan, Cibuaya Bisri Mustofa berharap ada tindakan tegas dari pihak sekolah untuk memberhentikan oknum terduga pelaku perbuatan bejat sebagai tenaga pengajar di sekolah.

“Harus ada tindakan tegas dari pihak sekolah, dan bila perlu oknum tersebut jangan lagi dipercaya sebagai tenaga pengajar di mana pun itu, agar hal serupa tak terulang kembali,” tegasnya. (zul)