KARAWANG, Spirit – Akibat curah hujan yang tinggi, semenjak jumat (05/02/2021) lalu, di beberapa wilayah Kabupaten Karawang mengalami bencana banjir, baik dalam bentuk genangan maupun luapan. Seperti di Desa Kertasari Kecamatan Rengasdengklok, banjir genangan telah mengakibatkan masyarakat terdampak untuk mengevakuasi diri. Atau di Perum BMI Kecamatan Cikampek yang terdampak banjir luapan Sungai Cikaranggelam harus dievakuasi oleh berbagai unsur tim rescue.

Inisiator SIGAP TARUM (Sistem Informasi Kesiapsiagaan Rakyat Citarum – Karawang), Willy Firdaus mengatakan bencana banjir luapan dan genangan di Kabupaten Karawang telah berdampak pada masyarakat banyak.

Menurutnya, dampak ini harusnya bisa dikurangi, apabila Karawang memiliki sistem peringatan dini yang memadai, mengingat saat ini kondisi sungai Citarum menurut pantauannya telah memasuki fase bahaya. Berdasarkan pantauan pada hari Minggu (7/2/2021), pada pukul 11:20 wib, ketinggian air 16.60 mdpl (meter diatas permukaan laut). Dan update pukul 14:20 wib, level ketinggian air mencapai 17.20 mdpl.

“Dengan kondisi sungai Citarum saat ini, masyarakat sudah harus mulai evakuasi barang-barang ketempat yang lebih tinggi untuk daerah yang sering terjadi banjir, karena ditakutkan malam hari ini air naik tiba-tiba. Saat ini sungai Citarum TMA nya naik terus disebabkan limpasan dari Hulu Sungai, masyarakat harus tetap waspada dan siaga menghadapi luapan,” tegas pria yang akrab disapa Willy tersebut kepada spiritjawabarat.com, Senin (8/2/2021).

“Saat ini masyarakat sudah sadar kesiapsiagaan menghadapi bencana, namun mereka bingung apakah ini sudah masuk waspada, siaga atau bahaya, Kebingungan masyarakat ini disebabkan tidak adanya sistem peringatan dini terkait cuaca dan limpasan sungai,” imbuhnya.

Jika Pemkab Karawang mau membuat serta mengoperasikan sistem peringatan dini dan mensosialisasikannya ke masyarakat, maka masyarakat bisa lebih bersiap. Saat ini masyarakat masih mengandalkan informasi Tinggi Muka Air (TMA) yang disediakan oleh Perum Jasa Tirta II (PJT2).

“Karawang belum belajar dari ketidak hadirannya dalam mengisi kekosongan peringatan dini ini” jelas Willy.

Willy Firdaus bersama masyarakat bantaran Sungai Citarum hilir mengisi kekosongan sistem peringatan dini ini secara mandiri. Peringatan dini ini dinamakan SIGAP TARUM (Sistem Informasi Kesiapsiagaan Rakyat Citarum – Karawang), hasil swadaya dan gotong royong masyarakat.

“Kami hanya mencoba menolong masyarakat dengan apa yang kami mampu saat pemerintah tidak hadir,” tutupnya.

Banjir di Tengah Pandemi Covid-19

Ia pun menyoroti, bencana banjir tahun ini yang bersamaan dengan bencana pandemi Covid-19.

“Karawang saat ini masih tinggi kasus terkonfirmasi Covid19-nya, selain siaga banjir, masyarakat juga harus menjaga protokol kesehatan secara ketat,” katanya.

Iapun mengingatkan Pemkab Karawang untuk menerapkan protokol kesehatan ditengah bencana banjir yang terjadi di Karawang. Menurutnya, tempat pengungsian sampai dapur umum harus diterapkan prokes (protokol kesehatan) agar tidak terjadi klaster (kelompok) baru dipengungsian.

“Apalagi banyak tokoh, pejabat sampai tim rescue dari luar daerah yang datang, ini kemungkinan penularannya sangat besar,” jelas Willy.

Hal ini untuk menghindari penularan dari tim rescue ke pengungsi atau sebaliknya. Harapannya di tempat pengungsian disediakan tenaga kesehatan serta ruang perawatan jika nantinya ditemukan positif Covid19.

“Masker, menjaga jarak dan fasilitas kebersihan diri harus di siapkan secara maksimal untuk mengurangi penularan. Sebelum ditegur pemerintah pusat atau provinsi, maka alangkah baiknya Pemkab Karawang menyiapkan diri secara maksimal” ujarnya. (ist/dar)