KARAWANG, Spirit
Humas RSUD Karawang melalui Kepala Bagian Pelayanan RSUD Karawang Dwi Sulistyo mengakui bahwa memang sebelumnya balita Adim memiliki kondisi fisik yang baik namun setelah adanya perawatan lanjutan malah kondisinya memburuk.
Diagnosa yang dijadikan dalih oleh pihak RSUD Karawang, dikarenakan sang bayi saat itu lahir premature dan ada gangguan sistem pernafasan, sehingga harus dipasang alat batu nafas (sifat) dan nasogastric tube (NGT) pada bayi Adim.
Lagipula, dalihnya juga, sang bayi memiliki kulit yang hipersensitif sehingga muncul dampak dari perawatan tersebut.

“Alat berupa selang yang dipasang melalui hidung masuk ke dalam lambung untuk memberinya makanan (susu), dan satu lagi alat bantu nafas karena ada gangguan sistem pernafasan pada bayi Nuryanah 1 (Adim, red),” jelasnya.
Jadi ini resiko dari sebuah tindakan medis lanjut Dwi yang harus dilakukan dengan mempertimbangkan keselamatan bayi tersebut.
“Dulu belum ada nama makanya tidak ada nama Adam dan Adim yang kita tahu bayi Nuryanah 1 dan bayi Nuryanah 2. Dulu juga kita sudah pernah jelaskan kepada orang tua bayi, bahwa kulit bayi mereka itu hipersensitif,” jelasnya.
Masih menurut Dwi, saat itu banyak bayi yang dirawat serupa, tetapi tidak mengalami apa yang dialami Adim yang memiliki kulit sensitif.
“Setelah dirawat kita sarankan untuk intens kontrol ke RSUD, tapi menurut catatan rumah sakit mereka hanya datang satu kali,” katanya.
Iapun menegaskan kejadian tersebut bukan seperti yang disebut dengan kelalaian tetapi resiko yang harus diambil dari sebuah tindakan medis. “Bawa lagi ke RSUD kita tangani dan kita obati lagi,” pungkasnya. (dar)

