KISAH Raja Najasy yang bijaksana dalam memimpin tanpa memaksakan kehendak dalam mengatur rakyatnya dengan menerapkan sistem hukum Islam namun ketika meninggal di sholatkan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai Muslim yang kaffah. Kisah tersebut telah menjadi inspirasi jalan tobatnya mantan narapidana terorisme, Hendro Fernando.

Dari kisah itu, Hendro akhirnya tergerak untuk berikrar setia kepada Indonesia pada 2019. Ia juga mengikuti upacara pertamanya di Lembaga pemasyarakatan Nusakambangan dan menjadi petugas pengibar bendera merah putih.

Hendro adalah mantan narapidana terorisme. Ia divonis 6 tahun 2 bulan penjara karena terbukti memfasilitasi sejumlah aksi terorisme di Indonesia. Perannya sebagai pengatur logistic, memasok senjata api untuk kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan teroris Santoso. Hendro juga merekrut dan memberangkatkan ratusan WNI ke Suriah untuk bergabung dengan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) pada 2014-2015.

Dana operasional untuk aksi terorisme sebesar Rp. 1,3 miliar, ia dapatkan melalui pimpinan ISIS Indonesia di Suriah, Bahrumsyah. Peristiwa bom Thamrin Jakarta menjadi kisah akhir perjalanan dirinya dalam dunia terorisme, ia ditangkap oleh Densus 88 karena telah terbukti memfasilitasi logistik senjata api pelaku. Ia bebas pada 2020 setelah mendapatkan remisi 2 tahun.

“Kisah Raja Najasy yang adil dan bijaksana dalam memimpin rakyatnya meskipun tidak menerapkan hukum islam telah mengurangi pemikiran radikal saya. Sehingga tanpa pikir panjang langsung mau berikrar setia pada NKRI,” jelas Hendro, baru-baru ini, Rabu (29/6/22) saat disambangi awak media di kantor yayasan Debintal, Bekasi.

“Kisah Raja Najasy ini juga bisa aplikasikan di Indonesia untuk mengcounter gerakan intoleransi, radikalisme dan terorisme,“ tambahnya.

Mendirikan Unit Usaha UMKM dan Pelatihan Usaha

Kini Hendro bersama mantan narapidana teroris lainya mengelola Yayasan Debintal, wadah pembinaan dan pendampingan bagi mantan napiter. Hendro sebagai sekretaris jenderal, ia bersama mantan terorisme lainnya melakukan pemberdayaan di bidang ekonomi, birokrasi, dan literasi.

Dibidang ekonomi, Yayasan ini mengembangkan unit usaha UMKM minuman jahe merah dalam botol, minuman sereh dalam botol, pembuatan kue roti dan peternakan burung puyuh petelur. Sebagian besar pengelola unit usaha tersebut adalah para mantan napiter dan masyarakat umum sekitar Yayasan. Selain itu, ia juga memberikan fasilitas pelatihan wirausaha dari nol sampai bisa mandiri.

“Sebagai pengelola unit usaha UMKM ini adalah teman-teman dari mantan narapidana teroris. Juga unit peternakan burung puyuh, mereka mengelola dari mulai penetasan telur sampai pembesaran dan sampai dengan burung bisa bertelur”, ungkap Hendro.

“Hasil dari unit usaha ini adalah untuk kesejahteraan pengelola dan buat keperluan yayasan seperti bayar listrik”, jelasnya.

Yayasan Debintal juga telah bekerjasama dengan Federasi Serikat Pekerja Panasonic Gobel (FSPPG) untuk memberikan pelatihan teknik pendingin bidang teknisi installer dan repair AC. Proses kerjasama bertempat di Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja (BBPLK) Bekasi.

Selain unit usaha, Para pengurus Debintal juga membantu para eks napi terorisme mengurus dokumen kependudukan serta mendampingi pengurusan persyaratan bebas bersyarat. Selain itu, Yayasan ini aktif berdakwah di penjara-penjara agar para mantan napi terorisme bisa kembali ke jalan yang benar.

“Selain unit usaha, kami membuat studio dakwah media debintal dengan tujuan untuk mengcounter pemikiran intoleransi, radikalisme dan terorisme”, pungkasnya. (ist/red)