KARAWANG, Spirit – Para petani di sejumlah kecamatan di utara Kabupaten Karawang menjerit karena merugi. Pasalnya harga jual gabah kering anjlok, selain itu quantitas atau jumlah hasil panen mereka pun menurun drastis.



Dikatakan salah seorang petani di Kecamatan Rengasdengklok, Maman (48) bahwa hasil panen kali ini benar-benar tidak sesuai dengan biaya yang telah dikeluarkan selama proses tanam hingga panen, dan jumlah hasil panen pun menurun hingga 50% dari biasanya.

“Kalau di saat normal harga jual gabah kering itu sampai Rp. 5.500/Kg, tapi saat ini harga tertinggi hanya Rp. 4.300/Kg, begitu juga harga yang ditawarkan Bulog. Dari jumlah tonase pun kali ini turun drastis, dari saat normal bisa menghasilkan 8 hingga 9,5 ton gabah tapi sekarang maksimal hanya bisa menghasilkan 5 – 6 ton gabah,” ungkap Maman, Senin (29/6/2020).

Di tempat berbeda, seorang petani asal Kecamatan Tirtajaya, Acep (51) mempertanyakan keberadaan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karawang melalui Dinas Pertanian saat petani mengalami kesulitan, seperti saat ini.

“Pemkab Karawang melalui Dinas Pertanian dengan program kartu tani dirasa saat ini tak bermanfaat bagi petani, dan itu sejak kartu tersebut diluncurkan. selain tak ada solusi dari Pemkab kondisi ini juga disebabkan oleh faktor alam dan kondisi pasar ditengah pandemi korona sehingga petani kesulitan menjual hasil panennya,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Karawang, Hanafi Chaniago belum mau menjawab panggilan telepon saat dihubungi awak media terkait kondisi yang tengah dialami sejumlah petani di Kabupaten Karawang.

Hasil pantauan di lapangan, selain turunnya jumlah hasil panen dan harga gabah kering, para petani di sebagian Kabupaten Karawang pun alami gagal panen atau fuso. (dar)