Pembangunan RKB dan RPS SMKN 1 Pakisjaya Dengan Anggaran DAK

KARAWANG,  Spirit



Pembangunan Ruang Kelas Baru (RKB) dan Ruang Praktek Siswa (RPS) SMKN 1 Pakisjaya yang seharusnya dilakukan secara swakelola,  menggunakan anggaran bantuan Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun 2018, diduga pelaksanaan pembangunan malah diborongkan atau di pihak ketigakan oleh kebijakan kepala sekolah lama. Hal tersebut di katakan ketua panitia pembangunan, Agus kepada awak media, saat ditemui dikantornya beberapa waktu lalu, (23/8).

“Atas kebijakan Kepala Sekolah sebelumnya (Edi Gunawan) maka diputuskan H. Oji sebagai Suplier barang dan menyediakan tenaga kerjanya,” kata Agus.

Sementara itu Ketua Komite SMKN 1 Pakisjaya, Dana Ganda Sasmita mengatakan dirinya sebagai ketua komite merasa tidak pernah dilibatkan dalam musyawarah dan pelaksanaan pembangunan RKB maupun RPS tersebut.


“Jadi saya tidak mengetahui sama sekali tentang administrasi maupun besar anggaran pembangunan tersebut, awalnya saya tidak pernah ambil pusing yang penting hasil pembangunan tersebut bagus dan sesuai dengan rencananya,” jelas Dana kepada Spirit Jawa Barat, Selasa (4/9).

Dirinya pun mengaku semenjak pelaksanaan pembangunan RKB dan RPS tersebut ia tak pernah melihat atau memantau dengan asumsi pelaksanaan pembangunan tersebut dilakukan dengan baik.

“Berdasarkan informasi kepala sekolah lama, pelaksana pekerjaan atau H. Oji memiliki jejak rekam yang baik dalam mengerjakan sesuatu. Tapi setelah melihat langsung, pelaksanaan pekerjaan terlihat asal jadi, dan dalam pelaksanaannya RKB pernah roboh, makanya saya langsung memeriksa,” ungkapnya.

Dana Ganda Sasmita menambahkan, dirinya sangat menyayangkan bahwa komite sekolah tak dilibatkan dalam pelaksanaan pembangunan RKB dan RPS yang seharusnya dilaksanakan dengan cara swakelola.

“Seharusnya kita ini minimal dijadikan pengawas pembangunan, dan kita, komite sekolah menduga pelaksanaan pembangunan tersebut dijadikan ajang untuk mencari ke untungan pribadi, untuk bertemu dengan pelaksana guna membicarakan pelaksanaan pembangunan yang terkesan asal jadi saja, pihak pelaksana terlihat selalu menghindar,” tegasnya.

Ditempat berbeda salah seorang warga yang memiliki keahlian pada bangunan, Boih mengatakan semua pekerja bukan orang daerah sekitar, meskipun ada hanya untuk menurunkan pasir dan batu dari kendaraan.

“Menurut saya adukan yang digunakan dalam membangun di sekolah ini kurang bagus karena kurang semen,” pungkasnya. (zul)