TAYANGAN sebagian stasiun televisi Kamis (14/1) kemarin menyajikan dua acara live yang benar-benar mencuri perhatian. Saat pagi tengah beranjak, ada siaran  langsung dari Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor)  Jakarta menayangkan sidang yang menghadapkan mantan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata juga mantan Menteri ESDM Jero Wacik. Objek yang menarik adalah saksi meringankan, yakni hadirnya Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK). Sehari sebelumnya JK menyatakan tekatnya untuk hadir sesuai panggilan dalam sidang untuk mantan koleganya saat dalam Kabinet SBY. Hal serupa pernah dilakukan oleh Wapres Boediono, namun tempatnya tidak di pengadilan tetapi di kantor Wapres. JK menyebutkan, Wacik berhasil menghidupkan lagi pariwisata pasca terpuruk akibat dampak bom Bali.

Namun beberapa saat kemudian beberapa televisi menayangkan peristiwa yang tak kalah menjadi perhatian publik bahkan mengejutkan, yakni peledakkan bom di  Gedung Pusat Perbelanjaan Sarinah, Jakarta, yang terbilang di kawasan pusat kota.  Ini mengingatkan peristuiwa serupa beberapa tahun lalu, tatkala terjadi ledakan bom di Hotel JW Marriott dan Ritz Carton. Hanya saja saat ini ledakan bom disertai serangan besenjata terduga pelaku, sehingga terjadi kontak sejnata dengan aparat keamanan. Disebutkan  di antara korban, terdapat 5 orang tewas adalah pelaku.

Situasi itu tentu sangat mengharu biru dan membuat masyarakat dicekam rasa takut. Para pelaku yang masih diidentifikasi, sungguh-sungguh sudah melakukan teror. Hari-hari kemarin, kita baru disuguhkan berita gonjang-ganjing organisasi kemasyarakatan bernama Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar). Seantero nusantara memberikan komentar dan tanggapan beragam. Berawal dari banyaknya anggota keluarga hilang, setelah disebut-sebut masuk organisasi yang cukup masif dalam merekrut anggota. Tidak hanya kalangan masyarakat biasa, tetapi juga kaum profesional seperti dokter.

Tidak hanya itu, hari-hari kemarin juga kita membaca dan mendengar Densus 88, pasukan khusus antoteroris, menggerebek dan menangkapi terduga teroris. Seperti yang baru saja terjadi beberapa hari lalu, Densus 88 menangkap seorang mahasiswa berinisial U, di kompleks perumahan, di Bojongmakala, Kabupaten Bandung. Ada juga yang menyebut-nyebut bahwa keluarga tersebut pindahan dari Karawang.

Kembali ke soal peristiwa teror bom, dapat kita lihat dampaknya. Kamis kemarin, aparat kepolisian Karawang pun segera mengantisipasi dengan menggelar pengamanan dengan status siaga 1. Tidak hanya kawasan-kawasan vital, tetapi juga jalan masuk dari Jakarta diawasi secara ketat. Bahkan hotel-hotel tertentu mendapat pengawalan khusus. Tentu kita pahami, karena di hotel berbintang kerap hadir tamu-tamu dari Barat. Mereka inilah yang menjadi sasaran para teroris, karena dianggap musuhnya. Sebagaimana  yang terjadi di Sarinah, ada warga negara asing Eropa, yang mati ditembak teroris.

Masyarakat yang saat ini tengah dirundung kesulitan ekonomi, rasanya  bertambah dengan rasa takut. Kita benar-benar mengharapkan agar ada jaminan dari pihak keamanan, khususnya untuk Karawang, bahwa daerah ini memang aman, kondusifr, dan bukan sasaran teror, termasuk bukan sarang teroris.***