RENGASDENGKLOK, Spirit



Selain kondisi masyarakatnya yang masih banyak hidup dibawah garis kemiskinan seperti Nenek Nemi (73) dan Kakek Enjun (80). Desa Dewisari, Kecamatan Rengasdengklok juga mempunyai sisi lainnya, yaitu dalam segi kesehatan, menjadi yang tertinggi di wilayah kecamatan Rengasdengklok, dalam Angka Kematian Ibu (AKI) saat atau pasca kehamilan dan menjadikan Desa tersebut menjadi salah satu Desa tertinggal di Kecamatan Rengasdengklok. Dan Puskesmas Rengasdengklok melalui Penanggung jawab Poned nya mengajak masyarakat khususnya warga Desa Dewisari untuk ikut berperan aktif dalam menekan tingginya tingkat AKI.

Dikatakan Penanggung jawab (Pj)  PONED (Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar) Puskesmas Rengasdengklok, dr. Sopian bahwa semenjak tahun 2016 hingga tahun 2018, Angka Kematian Ibu selalu terjadi di Desa Dewisari.


dr. Sopian

“Untuk kecamatan Rengasdengklok, pada tahun 2016 dengan jumlah 5 kematian, tahun 2017 dengan 3 kematian dan tahun 2018, 3 kematian sampai dengan bulan Oktober ini, yang setiap tahunnya ada yang berasal dari Desa Dewisari,” jelas dr. Sopian kepada awak media, Kamis (25/10) di ruang kerjanya.

Yang menurutnya, tingginya Angka Kematian pada Ibu hamil tersebut disebabkan oleh banyak faktor, seperti yang biasa disebut dengan 3Terlambat dan 4Terlalu. Terlambat mengambil keputusan, terlambat untuk dirujuk, dan terlambat ditangani.

“4Terlalu nya, terlalu sering melahirkan, terlalu muda saat hamil, terlalu dekat jarak kehamilannya, dan terlalu tua saat hamil,” papar dr. Sopian.

Masih menurut dr. Sopyan bahwa telah banyak upaya yang tengah dijalani dan akan dilakukan oleh pihaknya, selain melakukan Audit Maternal Perinatal (AMP) yang merupakan kegiatan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan melalui pengkajian dan pembahasan kasus kesakitan, kematian ibu dan perinatal sebagai upaya pembelajaran bersama dalam menyikapi kasus kematian yang telah terjadi. Sehingga ditemui cara penanganan yang lebih baik dalam menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI).

“Kita juga lakukan peningkatan kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) terhadap para bidan, juga melakukan screening terhadap ibu hamil dan melakukan kemitraan dengan para dukun bayi atau paraji dan fasilitas kesehatan swasta atau klinik-klinik swasta di wilayah kerja kita. Selain itu juga dibutuhkan keterlibatan masyarakat luas dan kerjasama lintas sektoral seperti pemerintah desa setempat untuk bisa meminimalisir tingginya tingkat kematian pada ibu hamil ini,” pungkasnya. (zul)