KARAWANG, Spirit – Sempat mereda dan mulai melakukan pemulihan ekonomi dengan diterapkannya kebijakan ‘New Normal’ melalui aktivitas Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) beberapa waktu lalu, penyebaran Covid-19 kembali meningkat. Saat ini kasus pasien positif Korona terus mengalami peningkatan, dari beberapa klaster baru, dan terakhir muncul pasien positif dari sejumlah Perusahaan Industri di Kabupaten Karawang.

Kendati DKI Jakarta sudah menerapkan kembali langkah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), namun belum dengan Provinsi Jawa Barat (Jabar), padahal penambahan pasien positif Corona perharinya bisa mencapai 25 orang.

Di lain hal tahapan Pilkada serentak di Indonesia tengah berjalan, salah satunya di Karawang. Maka muncul kekhawatiran jika pelaksanaan Pilkada ditengah badai Pandemi Covid-19 akan memicu korban yang lebih banyak lagi.

Hal itulah yang diungkapkan pengamat Politik dan Pemerintahan Kabupaten Karawang Asep Agustian. Kepada spiritjawabarat.com, ia mengatakan jika Pandemi ini tidak ada yang bisa menjamin kapan akan dapat selesai, malah, dengan ada pesta Demokrasi yang domainnya akan menciptakan banyak kerumunan orang, dikhawatirkan akan menjadi klaster baru penyebaran terbesar COVID-19.

“KPU perlu melihat kondisi Pandemi yang hari ini malah semakin meningkat, dan jadi parameter untuk mempertimbangkan apakah Pilkada ini akan tetap dilanjutkan sesuai jadwal atau ditunda,” ujar pria yang akrab disapa Asep Kuncir (Askun) saat diwawancara SpiritJabar.com dikantornya, Kamis (17/09/20).

Jika tahapan Pilkada dilanjutkan, Askun meyakini akan muncul klaster penyebaran terbesar penyebaran COVID-19, karena dalam tahapan ada jadwal kampanye dan pungut hitung dan dalam realisasinya pasti menciptakan kerumunan orang banyak.

“Tahapan Kampanye sampai pelaksanaan pungut hitung, dikhawatirkan akan menciptakan klaster penyebaran, karena momentum itu sangat identik dengan kerumunan orang,” jelasnya.

Lebih lanjut Askun menyarankan kepada semuanya agar tidak menganggap enteng atau sepele, pasalnya penerapan ptotokoler kesehatan saja dirasa tidak akan cukup menjadi solusi agar virus tidak menyebar.

“Hari ini saja yang terkonfirmasi terpapar sudah mencapai angka 486 orang. Angka tersebut sifatnya baru sementara yang telah dipastikan melalui metode test medis, itu belum termasuk orang – orang yang sempat berinteraksi dengan ke 486 orang yang sudah dipastikan positif tersebut. Kalau ditracking, bisa jadi jumlahnya terus bertambah,” katanya.

Menurut Askun bukan saja menyarankan penyelenggara mengkaji ulang pelaksaan Pilkada, namun Gubernur Jabar, juga harus segera mengambil langkah kongrit, dalam memutus mata rantai penyebaran.

“Apa kah pak Gubernur Jabar mau membiarkan begitu saja, tanpa melakukan upaya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Kembali. Sebab, jika dilihat kondisi sekarang ini, sudah seharusnya melaksanakan PSBB lagi,” kata Askun.

Menurutnya, Kalau para pemimpin tinggi dan tertinggi membiarkan, ini bisa membahayakan keselamatan masyarakat secara menyeluruh. Pasalnya, melihat kenyataan yang terjadi di Karawang saat ini sangat mengerikan. Kalau hanya sebatas pengetatan dengan cara menghimbau serta membagikan masker sebagai bentuk penerapan protokol kesehatan, justru semakin beresiko tinggi, resiko bagi masyarakat dan petugasnya sendiri.

“Ya sekarang bagaimana tidak beresiko, petugas keliling pasar dan petugas medis disetiap Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) pun membagikan masker dijalanan. Apa kah itu tidak beresik, Adanya interaksi dan berkerumun antar petugas dengan masyarakat,” ucap Askun.

Atas dasar itu, Askun mendesak agar pmerintah segera mengambil langkah yang tepat. Agar dapat menuntaskan permasalahannya. Kasihan juga tenaga medis, mereka sudah sangat lelah dengan terus bertambahnya pasien Covid – 19. Selama ini korban yang terpapar dari kalangan tenaga medis juga tidak sedikit.

“Jangan beralasan di Jabar ada beberapa daerah yang akan melaksanakan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada),” tandasnya. (bal)