PURWAKARTA, Spirit – Pemkab Purwakarta menggelar Pameran Kuliner serta Produk Etnik Nusantara di Taman Pasanggrahan Padjajaran mulai 20 hingga 27 Agustus 2016. Taman Pasanggrahan Padjajaran yang dulunya dikenal dengan nama Alun-alun Purwakarta ini disulap menjadi penuh bunga, ornament khas Sunda, dan dua air mancur ukuran besar dengan monument kujang di tengahnya.
Dan mulai hari ini taman tersebut resmi dibuka untuk umum. ” Sebelumnya kan dibuka hanya untuk kegiatan khusus saja seperti upacara 17 Agustus, tapi sekarang pengerjaan sudah hampir beres jadi dibuka untuk umum,” ujar Dedi.
Dia juga menjelaskan, arti kata Pasanggrahan adalah tempat berkumpulnya para kesatria, cendekiawan hingga masyarakat yang memiliki visi yang sama. Sementara Padjajaran berarti kesetaraan yang menjadikan semangat persatuan.
“Jadi taman ini akan mengajarkan kita mengenai kesetaraan dalam kehidupan,” ucapnya.
Ia juga menambahkan, dalam pameran ini masyarakat bisa melihat berbagai jenis makanan tradisional dan aneka macam kerajinan. Bukan hanya etnik khas Jawa Barat, namun beberapa daerah seperti Sumatera Utara, Bali, Kalimantan Tengah, hingga Papua ikut meramaikan pameran ini.
“Berbeda dengan pameran lainnya, di tempat ini para perajin langsung membuat makanan atau aneka macam souvenir langsung di hadapan para pengunjung. Nantinya pengunjung pun bisa langsung membeli dari pedagang,” tambah Dedi.
Di tempat ini terdapat dua bangunan leuit atau lumbung padi khas sunda yang berukuran raksasa. Leuit itu dilengkapi dengan berbagai ornament khas petani di desa. Rencananya, dalam waktu dekat taman ini pun akan dipenuhi oleh aneka hewan yang juga berfungsi sebagai taman pendidikan.
“Mudah-mudahan taman ini bisa menjadi tempat wisata alternatif bagi masyarakat Purwakarta dan masyarakat yang berasal dari daerah lain,” ujar dia.
Sementara itu, presenter Bukan Empat Mata, Vega Darwanti, yang hadir dalam pameran ini mengaku cukup senang bisa melihat berbagai aneka kuliner dan kerajinan dari berbagai daerah ini. Ia juga mengatakan acara seperti ini sangat bagus sebagai wisata alternatif bagi masyarakat dan bisa menambah pengetahuan.
“Setelah melihat secara langsung pembuatan aneka kuliner dan souvenir dari berbagai nusantara ini kita bisa lebih menghargai hasil karya tersebut karena ternyata tidak gampang untuk membuat itu semua,” kata Vega yang sempat mengunjungi beberapa stan pameran bersama Dedi. (riz)
