Oleh: Khoiriyah

Guru aktif di SMAN 1 Klari kab. karawang



MUNGKIN sudah banyak yang sering mendengar istilah generasi milenial, tetapi mungkin masih ada yang awam tentang generasi Y dan generasi Z.

Menurut Wikipedia, generasi Y adalah generasi yang lahir dalam rentang tahun kelahiran 1981 sampai dengan 1994 masehi. Generasi ini disebut juga dengan sebutan generasi milenial, yang sudah mengenal teknologi seperti komputer, video games, dan smartphone. Generasi ini banyak menggunakan teknologi komunikasi instan seperti email, SMS, instant messaging dan media sosial seperti facebook, line, path, instagram, whatsapp, dan twitter. Mereka juga suka main game online. Generasi Y sering juga disebut generasi milenial.


Sedangkan generasi Z, masih menurut wikipedia, Generasi Z adalah generasi yang lahir dalam rentang tahun 1995 sampai dengan tahun 2010 masehi.

Generasi Z adalah generasi setelah Generasi Y, generasi ini merupakan generasi peralihan Generasi Y dengan teknologi yang semakin berkembang. Disebut juga iGeneration, generasi net atau generasi internet. Mereka memiliki kesamaan dengan Generasi Y, tapi mereka mampu mengaplikasikan semua kegiatan dalam satu waktu seperti nge-tweet menggunakan ponsel, browsing dengan PC, dan mendengarkan musik menggunakan headset.

Karakteristik Generasi Y

Pada tahun 2012, seperti dikutip livescience.com dari USA Today, ada sebuah studi yang menunjukkan bahwa generasi millenial lebih terkesan individual, cukup mengabaikan masalah politik, fokus pada nilai-nilai materialistis, dan kurang peduli untuk membantu sesama jika dibandingkan dengan generasi sebelumnya pada saat usia yang sama.

Masih menurut livescience.com, generasi ini bila dilihat dari sisi negatifnya, merupakan pribadi yang pemalas, narsis, dan suka sekali melompat dari satu pekerjaan ke pekerjaan yang lain. Akan tetapi, di sisi lain mereka memiliki sisi positif. Antara lain adalah generasi millenial merupakan pribadi yang pikirannya terbuka.

Karakter generasi Z

Menurut Akhmad Sudrajat, generasi Z mempunyai karakter antara lain; lebih fasih teknologi, lebih banyak bersosialisasi dengan sosial media, dan multitasking. Sedangkan karakter generasi Z menurut Connor Blakely antaralain; berperilaku instan, menyukai kebebasan, mahir teknologi dan percaya diri.

Psikolog Elizabet T Santosa dalam bukunya “Raising Children in Digital Era”, menyebutkan 7 karakter generasi Z. Karakter tersebut antaralain; pertama, memiliki ambisi yang besar untuk sukses. Kedua, menyukai pemecahan masalah yang lebih praktis dan instan. Ketiga, menyukai kebebasan, baik berpendapat maupun berekspresi. Keempat, memiliki kepercayaan diri. Kelima, bersikap optimistik. Keenam berpikir kritis dan detail. Ketujuh, ingin diberi pengakuan karena kemampuan dan eksistensi dirinya, oleh karena itu cenderung lebih narsis.

Kelebihan dan kelemahan Generasi Y dan Z

Dari ciri khas dari generasi Y dan generasi Z, mempunyai beberapa kelebihan, antara lain;

1. Mempunyai rasa ingin tau yang besar sehingga akan membuat wawasan menjadi luas.

2. Multitasking dan bersifat fleksibel terhadap segala hal.

3. Berpikir dan bertindak Kreatif (crative).

4. Mempunyai kepercayaan diri yang tinggi (confident).

5. Terkait dengan banyak komunitas sosial (connected).

Meskipun generasi Y dan generasi Z mempunyai banyak kelebihan, tetapi di sisi lain generasi Y dan Z juga mempunyai banyak kelemahan, antaralain;

1. Menginginkan segala sesuatu bersifat instan, kurang memperdulikan proses. Sehingga tak jarang, ketika mengerjakan soal ujian, tak mau pusing berpikir panjang, langsung mencari jawaban di internet. Karena itu bisa mengakibatkan timbul kemalasan dalam belajar.

2. Kurang mau membaca bacaan yang bersifat kontekstual apalagi buku buku tebal. Cenderung hanya mau membaca bacaan bacaan singkat saja, padahal hal tersebut bisa berdampak pada dangkalnya pemahaman.

3. Dangkalnya pemahaman, karena kurang membaca seperti nomer dua, dan kurang bisa mendengarkan penjelasan atau ceramah yang panjang baik dari guru ataupun orangtua.

4. Cenderung tergesa gesa dalam bertindak, karena kurang bisa berpikir panjang, dangkal pemahaman, serta belum bisa memikirkan dampak dari sesuatu yang dilakukan karena biasanya bersifat imitatif, mencontoh dari hal yang sering dilihat di sosial media.

5. Mudah bosan dengan hal yang bersifat rutinitas dan menginginkan variasi kegiatan yang berbeda dari sebelumnya.

6. Lebih banyak menggunakan waktu untuk hal yang bersifat bersenang senang, seperti bermain game atau shoping.

7. Cenderung permisif terhadap segala sesuatu, jika hal ini dibiarkan terus menerus maka nilai dan norma norma di masyarakat lambat laun akan pudar.

8. Konsumtif dan mudah tergoda iklan.

9. Kurang bersosialisasi.

Penguatan Pendidikan untuk generasi Y dan generasi Z

Dengan mempertimbangkan karakteristik, kelebihan dan kelemahan generasi Y dan Z, maka dapat dilakukan beberapa langkah penguatan. Langkah penguatan ini tentunya harus dilakukan dengan menganut tri pusat pendidikan seperti yang dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantara, yakni keluarga, sekolah dan masyarakat.

1. Penguatan Pendidikan di Keluarga

Dengan mengamati sedemikian banyak kelemahan generasi Y dan Z, maka keluarga mempunyai peran penting. Di sisi lain, karena tuntutan ekonomi dan perkembangan zaman, banyak orang tua, baik ibu dan ayah bekerja secara full time di luar rumah yang apabila tidak dimanajemen dengan baik, anak bisa mengalami gejala BLAAST (Bored, Lonely, Angry, Afraid, Stress, Tired). Apabila anak mengalami gejala BLAAST dan tidak mendapat penanganan yang tepat baik dari keluarga dan sekolah, maka dikhawatirkan anak akan terseret dalam permasalahan lain yang lebih buruk, seperti pergaulan bebas, narkoba dan miras. Oleh karena itu dari lingkungan keluarga harus melakukan beberapa langkah penguatan pendidikan berikut:

1. Penanaman nilai nilai agama dan budi pekerti. Karena semakin banyaknya kerawanan sosial dan agama, maka orang tua harus bisa menanamkan dan mengajarkan nilai agama dan budi pekerti pada anaknya, karena keluarga adalah madrasah pertama bagi anak.

2. Mengusahakan ada quality time untuk anak, sehingga anak merasa diperhatikan.

3. Menjalin komunikasi yang harmonis dengan anak, sehingga dimanapun anak berada, orang tua masih terus memantau bisa dengan HP atau lainnya.

4. Mengetahui dan mengontrol lingkup pergaulan anak. Orang tua harus mengetahui dengan siapa anaknya bergaul dan juga mengarahkan anak agar bergaul dengan teman yang positif kegiatannya.

5. Mengontrol penggunaan gadget. Anak generasi Y dan Z tentu tidak bisa dilarang seratus persen dari penggunaan tekhnologi baik hand phone maupun PC, karena apabila dilarang bisa mengakibatkan anak menjadi gagap tekhnologi. Tetapi sebaliknya, orangtua juga tidak bisa seratus persen melepaskan dan membebaskan anaknya bermain HP dan PC. Oleh karena itu ada beberapa hal yang bisa dilakukan orangtua:

a) Pemberian pemahaman pada anak, mana konten yang boleh diakses dan mana yang tidak boleh disertai dengan penjelasan dan alasan yang logis.

b) Pengaturan waktu dalam penggunaan Hp atau Pc, sehingga anak tidak mengalami kecanduan gadget. Sebisa mungkin diatur waktu untuk tugas sekolah, tugas rumah dan aktifitas di lingkungan sekitar.

c) Kontrol dari orang tua. Harus ada kesepakatan dan perjanjian dengan anak bahwa Hp atau Pc tidak boleh di pasword, atau jika dipasword, orang tua harus tahu paswordnya, sehingga orangtua bisa mengontrol konten apa saja yang diakses anaknya.

2. Penguatan Pendidikan di Sekolah

Dengan kelemahan generasi Y dan Z, maka rentan sekali terkena VUCA(Volality, Uncertainty, Complexity, Ambiguity). Oleh karena itu, sekolah harus berupaya agar peserta didik generasi Y dan Y berkarakter BEST ( Behave, Emphatic, Strong, Touch). Sehingga tercipta generasi yang multitasking namun juga berkarakter dan dan berbudi pekerti tinggi. Oleh karena hal tersebut, maka sekolah perlu melakukan langkah langkah penguatan pendidikan sebagai berikut:

a. Mengoptimalkan kegiatan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah dengan memberikan aturan agar peserta didik mengikuti minimal satu organisasi atau ekstrakurikuler di sekolah untuk mempertajam bakat siswa dan membuat siswa aktif berorganisasi dan berinteraksi.

b. Menggabungkan metode belajar dengan tekhnologi pendidikan yang ada. Oleh karena itu, para guru juga harus terus menerus mengembangkan dan mengasah kompetensi dan skill yang dimilikinya terutama dalam hal IT. Untuk sekarang ini bisa dengan mengikuti seminar dan pelatihan pelatihan baik yang bersifat tatap muka maupun dalam jaringan(virtual). Karena peserta didik makin berkembang kemampuan IT nya, maka para pendidikpun tak boleh kalah dan harus bisa mengimbangi peserta didiknya.

c. Inovasi metode dan model pembelajaran. Karena generasi Y dan Z mempunyai rasa ingin tau yang tinggi dan mudah bosan, maka para guru harus terus mengolah dan memvariasikan model dan metode pembelajaran yang digunakan. Agar tidak monoton, para pendidik bisa menyisipkan bermacam game edukatif dan cerita berkarakter untuk memotivasi peserta didik.

d. Guru melakukan pendekatan humanis terhadap peserta didik. Dengan berbagai kelebihan dan kelemahan generasi Y dan Z maka perlakuan terhadap peserta didik zaman sekarang tidak bisa diperlakukan sama seperti peserta didik zaman old. Jika peserta didik zaman dulu bisa dan berhasil dididik dengan cara yang agak keras, maka mungkin hal tersebut tak bisa diterapkan untuk zaman sekarang. Kalaupun masih menerapkan otoriterisme dalam dunia pendidikan justru mengakibatkan permasalahan lain seperti konflik antara peserta didik, guru, dan orangtua. Oleh karena itu guru harus menggunakan pendekatan humanis terhadap peserta didik antaralain pendekatan SOFTEN( Smile, Open gesture, Forward Lean, Touch, Eye contac, Nod) sehingga peserta didik merasa dihargai dan diapresiasi oleh guru.

e. Sekolah Ramah Anak. Sekolah harus dibuat senyaman mungkin lingkungannya agar anak merasa nyaman dan betah di sekolah, sehingga anak bisa belajar dan berkonsentrasi dengan baik.

f. Pembekalan ketrampilan pada siswa yang bisa diakomodasi dalam pelajaran PraKarya.

3. Penguatan Pendidikan oleh Masyarakat dan Pemerintah

Pemerintah mempunyai peran penting dalam penguatan pendidikan. Untuk zaman sekarang sudah banyak program pendidikan dan bantuan operasional dan beasiswa yang diberikan oleh pemerintah. Namun, pemerintah harus terus mengevaluasi dan memonitor distribusi bantuan operasional dan beasiswa pendidikan agar tepat sasaran. Karena jika tidak dilakukan monitoring secara holistik, dikhawatirkan masih terjadi penyelewengan dan penyalahgunaan bantuan dan beasiswa pendidikan.

Masyarakatpun berperan penting untuk terus mengontrol dan mendukung penguatan pendidikan agar pendidikan Indonesia makin maju.

Memajukan Kebudayaan pada Era Generasi Y dan Z

Tidak bisa dipungkiri, generasi Y dan Z mempunyai kemampuan duplikatif dalam artian kemampuan menirukan hal hal yang dilihat dan didengar dari media sosial(imitatif). Oleh karena itu, jika program program kebudayaan tidak digalakkan maka ditakutkan para generasi Y dan Z akan berpaling pada budaya asing yang lebih populer, dan kurang menghargai budayanya sendiri. Oleh karena itu, baik keluarga, sekolah dan masyarakat harus terus menggalakkan dan mempopulerkan budaya Indonesia dan budaya daerah lokal pada generasi Y dan Z. Di lingkungan keluarga, bisa dengan penggunaan bahasa daerah dan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Di lingkungan sekolah, bisa digalakkan dalam pelajaran seni budaya dan penggunaan baju adat daerah pada hari hari atau event event tertentu. Bisa juga memasukkan lomba lomba lagu dan baju daerah pada acara pentas seni dan lain sebagainya. Di sisi lain pemerintah bisa juga menggalakkan kebudayaan lewat berbagai program seperti lomba dan lain lain. Dengan demikian budaya Indonesia tetap lestari dan jaya.