KARAWANG, Spirit
Pengumpulan massa dengan jumlah banyak, sekalipun demonstrasi, menyampaikan hak-hak dan tuntutan kepada pemerintah pusat ataupun di daerah, membawa berkah tersendiri bagi pedagang asongan yang menjajakan minuman atau makanan.
Itu pula yang dialami Firman, seorang penjual asongan, saat berlangsung longmarch Serikat Kelompok Tani (Setakar) dan Federasi Serikat Pekerja Kerakyatan (FSPK) menuju gedung DPRD Karawang, Kamis (18/2).“Justru kita mah untung kalau ada yang demo, dagangan sepat habis.”
Menjadi hal lumrah ketika para pedagang asongan mendadak menaikkan harga daganganny hingga dua kali lipat ketika ada keramaian. Firman mengakui, menaikkan harga saat berada di tempat demo tidak akan didemo oleh pendemo yang sedang berdemo.
“Biasanya kita jual Rp 3 ribu sekarang RP 6 ribu.Ttapi, gimana ngasihnya aja. Kadang ada yang beli satu uangnya 10 ribu atau 20 ribuan, terus dianya lagi buru-buru, kembaliannya kadang tidak dia ambil.” ujar Firman.
Ridwan, buruh PT Meiji yang tergabung dalam FSFK Kabupaten Karawang, saat mengikuti demonstrasi, mengatakan semua pedagang asongan dan PKL memanfaatkan betul situasi ini, bukan Cuma 1 atau 2 pedagang, melainkan semua pedagang menaikkan harga dagaangannya.
“Mau gimana lagi, kitanya haus, dari pada nyari jauh, mending yang deket mahal juga ga apa-apa,” katanya.
Naiknya harga suatu komoditas, tampaknya tidak akan menjadi masalah jika dinaikan pada waktu dan tempat yang tepat. Seharusnya, ini pembelajaran bagi sekolompok orang atau kelompok yang mempunyai otoritas menaikkan suatu harga komoditas yang berdampak pada stabilitas ekonomi secara massif dan komperhensif, agar belajar dari tukang asongan yang menaikkan harga di waktu dan tempat yang tepat, sehingga yang muncul ketika harga naik adalah kata ‘tidak apa-apa’.
“Masalah naik-menaikan harga, mungkin, kita, pedagang asonganlah yag bisa menaikan harga. Tapi di saat yang bersamaan terus dipanggil oleh pembeli, ‘Mang aya keneh’?” katanya.(mahesa/Spirit karawang)
