Kosim Suguhkan Drama Realis Yang Menampar Kehidupan

KARAWANG, Spirit – Komunitas Seniman Muda (Kosim) Karawang sepertinya sedang produktif. Dalam waktu kurang dari satu bulan, Kosim melalui Komunitas Tanpa Nama mementaskan drama realis Tilu Rampog karya Abah Sarjang. Tilu Rampog, atau jika diartikan dalam Bahasa Indonesia berarti ‘Tiga Perampok’, disutradarai oleh Yusuf “Mamang” Ardiansyah.

Pementasan Tilu Rampog sebenarnya masuk dalam rangkaian Workshop Teater Tingkat Pelajar dan Mahasiswa yang diselenggarakan Sabtu (10/10) di Aula Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Karawang. Rangkaian workshop ditutup dengan pementasan Tilu Rampog di malam harinya, sekitar pukul 19.30 WIB.

Kepala bidang Promosi dan Film Disbudpar Karawang, Saidah menuturkan, pelaksanaan workshop dan pementasan teater ini merupakan agenda tahun dari Disbudpar yang biasa dilakukan setiap tahun. “Kami adakan dari tahun 2010,” ujarnya saat ditemui usai pertunjukan.

Namun, tidak setiap tahun ada agenda dan kegiatan yang sama. Tahun sebelumnya, Disbudpar membuat festival teater. “Mudah-mudahan tahun depan, kami bisa kembali membuat festival teater. Tujuannya agar para pelaku teater bisa menjadi duta Karawang ke tingkat lebih tinggi, baik provinsi, maupun nasional.”

Sementara itu, bicara soal pementasan, Mamang sangat rapi menata blocking pementasan ini. Pemain bergerak dengan motivasi yang kuat, tanpa kehilangan unsur estetis. Blocking dan gerakan pemain sangat halus. Tidak terlihat gerakan yang dibuat-buat. “Tilu Rampog adalah naskah realis yang terlihat ringan. Namun berat saat pelaksanaan. Naskah ini menggambarkan perilaku asli manusia saat mereka dihadapkan pada harta,” kata Mamang.

Hal yang perlu diacungi jempol dari pementasan ini ialah, bagaimana penata artistik dan timnya menyulap aula menjadi gedung pertunjukan yang representatif. Dua tiang kayu yang terpancang tepat di depan panggung, dimanfaatkan sebagai bagian dari artistik. Sebuah tindakan jenius dari tim produksi.

Sementara itu Abah Sarjang, penulis naskah ini mengatakan, Tilu Rampog terinspirasi dari kisah murid-murid Yesus dalam Injil. Dari kisah itu, Sarjang menarik jalan ceritanya, mengganti setting-nya, memasukkan unsur-unsur budaya, dan nilai puitik sastra Sunda.

“Tiga karakter dalam naskah Tilu Rampog sebenarnya dibuat untuk menampar kita semua. Tiga-tiganya adalah representasi dari diri kita. Diri kita yang serakah, diri kita yang tidak peduli pada saudara sendiri saat sedang di atas, diri kita yang menjadi maling,” ujar Sarjang.

Dalam pementasannya, Tilu Rampog memang menyinggung soal manusia yang gemar mencuri. “Anggota DPRD juga mencuri uang rakyat, para PNS juga mencuri anggaran, mereka sama seperti kita. Bedanya, kita mencuri secara kasar menggunakan golok, mereka mencuri secara halus, dan lebih sadis,” begitu kira-kira potongan dialog dalam pementasan.  (fat)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *