CILAMAYA WETAN, Spirit
Kepala Sekolah (Kepsek) SMKN 1 Cilamaya Karawang, Hj Mutia Purnamawati, diduga telah melakukan Pungutan uang parkir terhadap siswa hingga membuat sejumlah orang tua resah. Pasalnya, Mutia secara sepihak memungut uang parkir sebesar Rp 2000 per hari dengan dalih agar parkir supaya tertib dan nyaman, dugaan tersebut, terungkap saat siswa meminta tambahan uang jajan kepada orang tua untuk bayar parkir kendaraan disekolah.
“Lahan parkirnya didalam sekolah, tapi harus bayar Rp 2000 untuk satu kali parkir. Kami sebagai orang tua sudah dibebani kembali, karena memang sebelumnya tidak ada musyawarah apalagi kesepakatan perihal itu,” ungkap salah satu orangtua siswa SMKN 1 Cilamaya yang meminta namanya dirahasiahkan kepada Spirit Jawa Barat, Jumat (16/2).
Sumber tersebut meminta agar pihak sekolah jangan terlalu membebani terus kepada para siswa dan meminta supaya yang menjadi hak murid harus diberikan seperti fasilitas sekolah.
Orang tua siswa berharap agar dugaan pungutan oleh Kepsek Mutia bisa mendapatkan perhatian khusus dari pihak terkait agar tidak berdampak negatif pada siswa.
“Kita juga mengerti sekolah butuh bantuan, tapi jangan selalu dibebankan melulu kepada orang tua siswa. Awal masuk sekolah bayar, kelas XI diminta uang juga, kelas XII masih diminta uang juga, mana jumlahnya jutaan, apakah tidak cukup uang bantuan dari pemerintah. Apa-apa selalu diuangkan, dan dicari caranya,” katanya.
Sementara itu, Kepsek SMKN 1 Cilamaya Mutia, saat dikonfirmasi awak media malah mewakilkan kepada Staf TU, Dedi, selaku kepercayaannya untuk menjawab pertanyaan para wartawan. Menurutnya, tidak ada pungutan uang sebesar Rp 2000 per hari kepada siswa untuk parkir kendaraan bermotor disekolah.
“Gak semua siswa bayar parkir Rp 2000. Karena tidak ditarip. Tidak ada istilah pemaksaan. Dan uang nya digunakan untuk kepentingan fasilitas tempat parkir agar tertib dan nyaman bagi siswa itu sendiri,” ucapnya.
Kata pegawai Non PNS itu, dirinya mengaku bukan Bendahara sekolah, tapi hanya diberi kepercayaan oleh Kasek untuk menjawab pertanyaan wartawan. Pihaknya ingin menjadijan sekolah supaya tertib dan nyaman, kalau bukan dari murid harus dari mana untuk memaksimalkan keindahaan sekolah ini.
“Bila semuanya mengandalkan uang BOS tidak mungkin. Karena anggarannya terbatas, sementara biaya sekolah sangat banyak. Kalau bukan dari orang tua siswa mau pada siapa lagi kami minta bantuan,” pungkasnya. (wan)