wpid-2014-12-07-17-17-09-jpg
ILUSTRASI – Pintu gerbang kampung budaya karawang

KAMPUNG Budaya di Jln Interchange Barat Karawang, sepertinya belum beranjak menjadi bagian dari pusat kegiatan budaya. Kondisinya dari hari ke hari tampak makin kehilangan kharisma. Jalan masuk utama hingga kemudian bertemu gerbang lain yang tersambung dengan kawasan perumahan, kini tidak lebih berfungsi sebagai jalan umum. Kendaraan yang keluar masuk, cuma numpang lewat bukan mereka yang akan bergiat dengan budaya. Sementara sebuah bangunan besar dengan sebuah kolam, sepertinya akan dijadikan restoran atau rumah makan, yang kemudian entah dimana sisi pengembangan budayanya. Akankah akan disajikan makanan khas lokal? Entahlah
Sejak lama Kampung Budaya menjadi sasaran kritikan berkaitan dengan ketahanan struktur bangunan. Orang-orang yang sempat datang untuk melihat, kemudian melontarkan ucapan bangunan-bangunan di Kampung Budaya terkesan rapuh dan tidak kokoh. Hal itu terindikasi dari beberapa bangunan itu yang sudah rusak meski belum sebulan tempat itu diresmikan.
Sebagaimana tahun-tahun ke belakang, pernah terjadi kanopi bagian depan yang ada di Gedung Teater Arena pada Sabtu ambruk. Kanopi yang sedianya untuk menghalangi cahaya matahari itu ambrol ketika ada hujan lebat yang mengguyur. Bukan hanya kesan rapuh yang menjadi keheranan pengunjung, akan tetapi elemen yang mungkin semula memiliki fungsi, justru tidak fungsional untuk kebutuhan lain. Misalnya bagaimana Gedung Teater Arena bagian atasnya bolong, sehingga dapat mempermudah air masuk dan akhirnya menggenang di dalam gedung.
Boleh jadi, bolong bagian atas dinding samping gedung teater tersebut semula untuk ventilasi agar tidak menggunakan pendingin. Dari sisi kebutuhan sirkulasi udara memang bagian terbuka tersebut cukup fungsional. Akan tetapi apabila disandarkan pada kebutuhan sebuah pertunjukan, bagian terbuka tersebut menjadi tidak efektif, karena tidak kedap suara. Apalagi jika berlangsung pertunjukan teater gedung tersebut perlu diakali dengan properti lain, karena pentas teater membutuhkan sebuah ruangan terttup yang kedap suara, sehingga di dalam tidak terganggu oleh suara bising dari luar.
Kampung Budaya pun rupanya memunculkan kegaduhan lain yang tampaknya menjadi dilema. Boleh jadi jika di awal pembangunannya ditujukan untuk membina dan mengembangkan budaya lokal, namun kini sehari-hari tidak lebih sebagai tempat transit para remaja yang tengah dimabuk kasih.
Jika demikian kita jadi menduga, rupanya pembangunan Kampung Budaya dibangun tanpa arahan bagaimana mengisinya dan siapa yang akan menghuni untuk berkegiatan. Mungkin akan lebih elok apabila kawasan tersebut menjadi kawasan wisata dengan mengambil elemen pertanian. Ini sesuai dengan Kabupaten Karawang yang tetap dijadikan lumbung padi. Umpamanya mengapa tidak, sawah di sana tetap diolah cara tradisional; mulai macul, ngawuluku, ngagaru (dengan kerbau), ngarambet, panen dengan etem, dll. Itu akan menjadi atraksi yang bisa dijual ke wisatawan. Untuk membuat kegiatan seperti itu memang butuh konsep. Jangan ada anggapan lagi Kampung Budaya dibangun setengah hati, bahkan tidak pakai hati, sehingga berpikirnya cuma asal jadi!***