TEPAT pada hari Rabu 14 September 2016 Kabupaten Karawang genap berusia 383 tahun. Kepala daerah dari periode ke periode terus bergantian, pembangunan terus digalakan, entah untuk kepentingan siapa, yang jelas nama rakyat selalu laku dan diatasnamakan di setiap lembar tulisan dan juga teriakan lantang suara para Pejabat pemerintahan, anggota DPRD, hingga para aktivis.
Ada hal menarik pada saat acara puncak peringatan HUT Karawang ke 383. Disaat para pejabat pemerintahan Kabupaten Karawang sedang terhanyut dalam euforia arak-arakan kirab budaya memperingati hari jadi kota Pangkal Perjuangan yang terpusat di Jalan Tuvarep, yang juga disebut-sebut sebagai ‘Pesta Rakyat’, di tempat terpisah, ribuan pemuda asli Karawang sedang berdesak-desakan, berlumur keringat, mencari lowongan kerja di acara Job Fair yang ada di kantor Disnakertrans Karawang.
“Iya itu acara Job Fair, digelar pada tanggal 13 sampai 15 September. Semuanya warga Karawang yang ikut,” kata Kadisnakertrans Karawang, Ahmad Suroto, Rabu (14/9).
Lalu dengan keadaan tersebut, relevankah kirab budaya disebut sebuah acara pestanya rakyat Karawang, jika di hari yang sama ribuan pemuda Karawang, sedang berjuang mendapatkan kerja, tak peduli keringat terus berkucuran, yang terpenting bisa mendapatkan kerja. Atau memang kirab budaya tersebut lebih pantas disebut pestanya para pejabat pemerintahan Karawanng saja ? atau pestanya pejabat pemerintahan dan warga kelas menengah.
Penyematan julukan Kabupaten Karawang sebagai kota Pangkal Perjuangan, apakah menjadi sebuah konstelasi nawacita bersama di usia Kabupaten Karawang yang ke 383, menjadi perjuangan seluruh komponen mendaulatkan birokrasi dan hukum, memberdikarikan sebuah iklim ekonomi di daerah, atau hanya menjadi semangat perjuangan para pemuda melawan ketidaksiapan perbubahan poros karakter sebuah daerah dari poros ekonomi pertanian (primer) ke iklim industri (sekunder), dan jasa perhotelan (tersier).
“Saya datang kesini bersama empat orang teman saya, Kang. Sengaja emang nunggu Job Fair dari dua minggu yang lalu. Malahan saya tidak tahu sekarang lagi ada kirab budaya peringatan HUT Karawang,” kata seorang pencari kerja yang datang ke acara Job Fair, Budi Agung.
383 tahun sudah Karawang melegimitasikan sebagai sebuah daerah yang menjadi bagian utuhnya negri. Kepala derah terus berganti dari periode ke periode, rakyat tetap menjadi bagian paling laris disebut dan dituliskan oleh pejabat pemerintahan, wakil rakyat di DPRD, hingga para aktivis, dalam setiap agenda program kerja dan agenda pergerkan-pergerkan para aktivis di Karawang.
Sebagai buktinya, kirab budaya masih sangat laku didagangkan menjadi sebuah istilah pesta rakyat, meski pada kenyataanya, di waktu yang sama, ribuan pemuda dengan kucuran keringat sedang berdesak-desakan di kantor Disnakertrans Karawangng mencarai lowongan kerja. Bisa jadi, itulah pesta pemuda asli Karawang, pesta memperingati hari jadi tanah kelahirannya, pesta memopong lamaran kerja dengan wajah ceria membasuh keringat-keringatnya, ikut meramaikan pesta rakyat, di waktu yang sama, di tempat yang berbeda. Atau memang, secara tidak tersadari, pesta rakyat para pemuda pencari kerja asli Karawang, memang pesta tandingan dari pesta rakyat yang digelar Pemkab Karawang. (Mahesa Bahagiastra/ Spirirt Jawa Barat)
