Oleh: Dr. Ruslan Abdul Gani, M.Pd (Dosen Universitas Singaperbangsa Karawang)

PEMBINAAN cabang olahraga harus dilakukan dengan serius, manajemen kepengurusan harus dijalankan sesuai dengan AD/ART pengurus cabang olahraga masing-masing. Pengurus cabang olahraga harus mempunyai program jangka panjang, menengah dan pendek agar pola pembinaan cabang olahraga dapat terealisasi dengan baik, terukur dan tepat sasaran. Proses Pembinaan cabang olahraga tidak mudah dilakukan, tidak seperti kita membalikan telapak tangan, pembinaan cabang olahraga harus dilakukan dengan proses panjang agar menghasilkan kualitas atlet yang memiliki keterampilan yang optimal dari segi fisik, teknik, taktik dan mental bertandingnya. Peran seorang pelatih sangat penting dalam mencetak atlet semuanya ada pada pelatih, sorang atlet dapat berprestasi merupakan hasil dari program latihan yang dirancang oleh pelatih. Jadi seorang atlet harus berterimakasih kepada pelatih yang mencetaknya menjadi atlet berprestasi, atlet harus memiliki dan menerapkan dalam kehidupannya nilai respect pada pelatih dan sesama atlet, tanpa pelatih atlet tidak akan punya prestasi yang tinggi.

Dalam membangun sebuah program besar pembinaan olahraga jangka panjang harus dilakukan dengan serius semua komponen atau aspek dalam menunjang prestasi olahraga harus disiapkan dan diaktualisasikan nyata. Menuju prestasi yang tertinggi itu prosesnya panjang dan tantangannya banyak. Prestasi tertinggi bagi atlet cabang olahraga adalah tampil pada olimpiade, untuk mencapai ke tingkat tertinggi prestasi atlet ini semua unsur pemerintah, KONI, KOI dan pengurus cabang olahraga harus mempersiapkan komponen dan aspek tersebut seperti Sarana prasarana olahraga, keterdukungan optimal anggaran pada bidang olahraga, sumber daya pelatih yang berlisensi sesuai dengan cabang olahraganya, program latihan yang terprogram dan terencana dengan baik, nutrisi yang diberikan pada atlet harus memenuhi gizi seimbang dan pembinaan mental pada atlet.
Dalam mendesain pembangunan olahraga yang berkelanjutan harus dibuatkan pola rancangan dari mulai tingkat dasar, menengah dan atas. Pada tingkat dasar atau pada proses pemasalan adanya pada sekolah-sekolah atau klub olahraga, jadi harus dibuat rancangan program pemasalan tersebut polanya dan harus sama di tiap daerah dari sabang sampai merauke supaya dalam proses pemasalan ini sama visi dan misi dan tujuan programnya. Pada tingkat menengah atau pada proses pembinaan adanya pada pemerintah daerah (Pengkab/kota dan pengprov), KONI kabupaten dan KONI provinsi sama juga pola pembinaan dan program latihan yang diberikan kepada atlet binaannya harus sama di tiap daerah dari sabang sampai merauke dengan tetap memperhatikan budaya dan norma daerahnya masing-masing. Pada tingkatan atas adanya pada pemerintah pusat yaitu pada pimpinan negara dan kementrian yang membidangi olahraga (Kemenpora).

Pada tingkatan atas ini seorang atlet sudah mencapai puncak tertinggi pembinaan olahraga untuk mencapai prestasi menuju singel event dan multievent internasional dengan membawa lambang garuda di dada dan mengibarkan merah putih pada event yang diikutinya, jadi hanya ada dua yang dapat mengibarkan bendera merah putih dengan diiringi “lagu kebangsaan indonesia raya” yaitu pimpinan negara dan atlet, maka seorang atlet harus diberikan penghargaan yang sepadan dengan perjuangan yang dilakukannya karena dapat mengibarkan bendera merah putih di dunia. Sesuai dengan panduan pada DBON yang sudah disahkan oleh presiden pada Perpres No.86 Tahun 2021 tentang Desain Besar Olahraga Nasional bahwa pola pembinaan harus sama di tiap daerahnya baik tingkat dasar (proses pemasalan), tingkat menengah ( proses pembinaan) guna menuju tingkat atas (puncak prestasi). Dibuatkan rancangan utuh dan menyeluruh program dari tap tingkatan tersebut jangan di ubah-ubah. Penulis mempunyai gagasan dan ide dicoba dibuatkan rencana program 5 tahunan keolahragaan nasional (Replikornas) dengan para akademisi keolahragaan, stake holder, pimpinan daerah, perwakilan pelatih dari masing-masing cabang olahraga dari tingkat kabupaten, provinsi dan pelatih nasional, para kepala sekolah di tiap jenjang pendidikan dan perwakilan guru pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan (PJOK) di tiap jenjangnya dari kabupaten dan provinsinya masing-masing dengan rinci dan detail lebih bagusnya adanya kurikulum pembinaan cabang olahraga baik olahraga rekreasi, olahraga pendidikan maupun olahraga prestasi, agar pola pembinaan olahraga jelas dan terprogram serta berkesinambungan tiap tingkatan level pembinaannya. Rencana Program Lima Tahun Keolahragaan Nasional (Replikornas) ini harus berkelanjutan jangan terputus apabila berganti kepemimpinan. Programnya harus dikawal bersama jangan ada kata suka dan tidak suka karena ini berkaitan dengan pencapaian prestasi puncak atlet. Gagasan dan ide ini hanya masukan agar tidak adanya gap atau kesenjangan yang tinggi antara pembinaan di paling bawah yaitu di tingkat kecamatan dan kabupaten/kota sampai ke tingkat pusat, jadi arah pembinaan jelas, terukur, berkesinambungan dan sasaran program tercapai.

Pembinaan cabang olahraga akan berhasil mencapai targetan yang diharapkan dan ditentukan tentunya harus dengan Metode analisis SWOT ( Strength, Weaknes, Oportunity dan Threath) pengurus dan pelatih harus mengetahui Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman yang akan terjadi dan dihadapi dalam perjalanan menuju targetan prestasi yang diharapkan, karena ada istilah apabila prosesnya bagus maka prestasi pun akan diraih. Contoh analisis SWOT Misalnya kekuatan yang dimiliki oleh cabor tersebut dari segi letak geografisnya, SDM pelatih dan atletnya sudah berlisensi, keterdukungan anggaran baik dari pemerintah maupun dari perusahaan yang membantu. Kelemahan yang dimiliki misalnya sarana dan prasarana cabang olahraga,kondisi fisik atlet SDM pelatih yang dimiliki cabor belum berlisensi. Peluang misalnya daerah tersebut memiliki atlet andalan peraih emas yang tidak ada saingannya di daerah lain, atlet yang dibina memiliki anthropometri yang ideal bagi cabornya dan terdukung oleh pelatih yang berpengalaman di nasional dan internasional sehingga peluang untuk memperoleh medali akan tercapai. Ancaman misalnya jual beli atlet daerah jadi bukan asli binaan daerahnya sehingga ini yang akan mengancam targetan prestasi yang sudah ditetapkan, pengaruh lingkungan keluarga, lingkungan tempat latihan yang akan mengancam psikologis atlet saat latihan dan bertanding.

Analisis SWOT ini apabila diterapkan secara optimal dengan adanya instrumen yang valid sesuai dengan kebutuhan dan targetan yang ingin dicapai maka akan mencapai keberhasilan dalam proses maupun hasil prestasi yang diharapkan atau ditargetkan. Akademisi keolahragaan harus terus berkolaborasi dengan pemerintah baik pusat maupun daerah dan kabupatennya masing-masing dalam hal pemasalan, dan pembinaan cabang olahraga dapat berjalan dengan terprogram dan terdata dengan detil, dengan seperti itu maka tujuan keolahragaan nasional menuju puncak prestasi tertinggi yaitu pada olimpiade dapat tercapai sesuai dengan pernyataan menteri pemuda dan olahraga Republik Indonesia Bapak. Dr. H. Zainudin Amali, S.E., M.Si “Hulunya Kebugaran Hilirnya adalah Prestasi”. (*)