Metode “Stenomat”, Cara Mudah Kuasai Aritmatika Sejak SD

KARAWANG, Spirit – Kemampuan numerasi pelajar di Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah serius. Tak sedikit siswa tingkat SMP hingga SMA yang belum menguasai hitungan dasar, bahkan masih kesulitan menghafal perkalian. Kondisi ini dinilai berakar dari lemahnya penguasaan aritmatika sejak bangku sekolah dasar.

Penemu metode pembelajaran “Stenomat”, Nanang Anwarudin, menilai aritmatika merupakan fondasi utama bagi seluruh cabang ilmu.

“Kalau sejak SD anak gagal menguasai aritmatika, maka akan sulit mengejar di jenjang berikutnya. Padahal ini kunci untuk memahami pelajaran lain,” ujarnya.

Berdasarkan hasil audiensi dengan sejumlah kepala sekolah, baik SD negeri, swasta, hingga madrasah, rata-rata penguasaan aritmatika siswa saat ini hanya sekitar 50 persen. Itu pun, kata Nanang, sebagian besar baru sebatas bisa, belum sampai pada tahap mahir.

Berangkat dari kegelisahan tersebut, Nanang mengembangkan metode berhitung cepat bernama Stenomat sejak 2011. Metode ini kemudian memperoleh hak cipta pada 18 Februari 2013 sebagai “stenografi matematika”.

Stenomat dirancang sebagai metode sederhana dan cepat untuk membantu anak menguasai aritmatika, khususnya perkalian yang selama ini menjadi momok. Melalui pendekatan “jari steno”, siswa diajak menghitung sekaligus menghafal tabel perkalian menggunakan jari tangan.

“Selama ini anak dipaksa menghafal, padahal itu yang membuat mereka kesulitan. Dengan metode jari, prosesnya jadi lebih mudah, menyenangkan, dan cepat dipahami,” jelasnya.

Menurut pria yang juga sebagai pendiri lembaga kursus stenomat ini, pengembangan metode ini terus berlanjut hingga akhirnya pada 2024 dibentuk brand lembaga kursus Stenomat. Tak lama berselang, outlet pertama dibuka di wilayah Karawang, disusul pengembangan kursus berbasis online dan kemitraan.

Kini, pengelolaan program berada di bawah PT Steno Edukasi Indonesia, yang juga telah menyiapkan akses pembelajaran melalui platform digital serta sistem pengadaan sekolah.

Kantor pusat lembaga ini beralamat di Jalan Perum Karaba 2, Kelurahan Kondangjaya, Kecamatan Karawang Timur, Kabupaten Karawang.

Metode Stenomat juga telah melalui uji kelayakan di hadapan Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama di Cirebon, dan dinyatakan layak diterapkan di sekolah dasar maupun madrasah ibtidaiyah.

Fokus pada Fondasi

Stenomat membagi pembelajaran dalam tiga tahapan, yakni aritmatika dasar, aritmatika lanjut, dan mental aritmatika. Materi mencakup penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian hingga akar pangkat.

Program ini dirancang sistematis sesuai jenjang kelas, mulai dari kelas 1 hingga kelas 2 SD/MI, dengan target utama memastikan seluruh siswa mampu menguasai perkalian sebelum naik ke jenjang berikutnya.

“Target kami sederhana, semua anak Indonesia lulus SD harus bisa perkalian,” tegas Nanang.

Menuju Generasi Emas 2045

Melalui roadmap yang telah disusun, Stenomat menargetkan penerapan metode ini secara luas di seluruh sekolah dasar hingga tahun 2032. Bahkan, pada 2029, kemampuan berhitung diharapkan dapat menjadi salah satu standar kelulusan siswa SD.

Dengan pendekatan yang praktis dan mudah diterapkan, Stenomat diharapkan menjadi salah satu solusi konkret dalam meningkatkan kualitas numerasi nasional.

“Kalau kita ingin generasi emas 2045 benar-benar terwujud, maka penguatan aritmatika anak SD hari ini tidak bisa ditawar,” pungkasnya. (rls/red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *