Oleh: Aceh Sudiar, S.Si (Dewan Pengawas PERUMDAM Tirta Tarum, Karawang)
SEJARAH air perpipaan adalah sejarah tentang bagaimana negara hadir untuk menjamin kehidupan rakyatnya. Dari saluran tanah liat di Mesopotamia, hingga akuaduk megah Kekaisaran Romawi, satu pesan selalu sama: peradaban besar dibangun di atas sistem air yang tertata.
Indonesia mewarisi pelajaran sejarah itu. Setelah kemerdekaan, pengelolaan air tidak lagi menjadi hak eksklusif elite kolonial seperti di era Batavia, tetapi menjadi bagian dari amanat konstitusi: air untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Dalam konteks Kabupaten Karawang, peran itu hari ini dijalankan oleh PERUMDAM Tirta Tarum Karawang.
Dengan cakupan layanan yang telah mencapai kurang lebih 23% penduduk Kabupaten Karawang, PERUMDAM Tirta Tarum bukan sekadar perusahaan daerah — ia adalah instrumen negara di tingkat lokal. Setiap sambungan rumah yang terpasang adalah simbol kehadiran pemerintah dalam menjamin hak dasar warga atas air bersih.
Lebih dari itu, kontribusi keuntungan yang terus meningkat setiap tahun ke kas daerah menunjukkan satu hal penting:
pelayanan publik dan kinerja bisnis dapat berjalan beriringan.
Di sinilah babak baru sejarah air perpipaan ditulis.
Jika pada masa Romawi air menjadi simbol kekuatan negara, maka di Karawang hari ini air menjadi simbol tata kelola yang sehat. Bukan hanya melayani, tetapi juga memperkuat fiskal daerah. Keuntungan yang disetorkan menjadi bagian dari Pendapatan Asli Daerah (PAD), yang kemudian berkontribusi membiayai pembangunan: infrastruktur, pendidikan, kesehatan, dan layanan publik lainnya.
Namun angka 23% juga menyimpan tantangan historis. Artinya, masih ada lebih dari separuh penduduk yang belum menikmati layanan air perpipaan. Sejarah selalu mengajarkan bahwa kemajuan peradaban ditentukan oleh kemampuan memperluas akses, bukan hanya mempertahankan capaian.
Maka PERUMDAM Tirta Tarum berada pada persimpangan dan tantangan penting yakni:
- Memperluas cakupan layanan
- Menurunkan tingkat kehilangan air (NRW)
- Menjaga kualitas, kontinuitas, keterjangkauan, sekaligus mempertahankan profitabilitas.
Inilah evolusi modern dari sejarah air perpipaan:
dari sekadar mengalirkan air, menjadi pengelolaan keberlanjutan dan tata kelola yang akuntabel.
Bagi Karawang (daerah industri dan pertanian) air bukan hanya kebutuhan rumah tangga, tetapi ia menjelma sebagai fondasi ekonomi.Ketahanan air berarti ketahanan daerah. (***)
