KARAWANG, Spirit– Sorotan tajam mengemuka dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kecamatan Rengasdengklok Tahun Anggaran 2027. Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Karawang, Mumun Maemunah, menegaskan bahwa Rengasdengklok tidak boleh tumbuh tanpa arah. Di tengah pesatnya geliat ekonomi, ia mengingatkan pentingnya menata wajah kota agar selaras dengan identitas sejarahnya sebagai kota perjuangan.
Musrenbang yang digelar pada Rabu (11/2/26) itu jadi ajang penentuan arah pembangunan kecamatan yang akan masuk dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kabupaten Karawang. Di forum tersebut, Mumun menyampaikan kritik dan harapannya agar pembangunan Rengasdengklok tidak hanya berorientasi pada ekonomi, tetapi juga estetika dan tata ruang.
“Rengasdengklok ini tumbuh cepat. Banyak pendatang datang membuka usaha, terutama perdagangan. Ekonomi bergerak baik, tapi jangan sampai pertumbuhan ini membuat kota kita terlihat kumuh dan semrawut,” ujarnya menegaskan.
Ia menilai, meski sektor perdagangan meningkat pesat, wajah kota masih jauh dari tertata. Padahal, Rengasdengklok memiliki nilai historis penting sebagai saksi lahirnya kemerdekaan bangsa.
“Kita ingin Rengasdengklok menjadi kota sejarah yang indah, rapi, dan bersih. Ekonomi tetap berjalan, pedagang tetap bisa berdagang, tapi tata kota harus jadi prioritas,” katanya.
Mumun juga menyinggung masih banyaknya pedagang yang memilih berjualan di pasar lama, meski pemerintah telah membangun pasar baru yang lebih layak. Kondisi itu, menurutnya, mencerminkan lemahnya pengawasan dan kurang tegasnya kebijakan penataan kawasan perdagangan.
“Pemerintah sudah menyediakan pasar baru, tapi sebagian pedagang masih di pasar lama. Ini bukan sekadar soal tempat, tapi soal wajah kota. Kalau terus dibiarkan, kesan kumuh akan sulit dihilangkan,” tegasnya.
Politisi yang dikenal vokal itu menekankan bahwa pembangunan Rengasdengklok harus berbasis keseimbangan antara ekonomi dan tata kota. Menurutnya, tanpa perencanaan matang, pertumbuhan ekonomi justru bisa memunculkan masalah sosial dan lingkungan baru.
“Pembangunan itu harus menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus menjaga identitas sejarah. Kalau bisa berjalan seimbang, Rengasdengklok bukan hanya maju secara ekonomi, tapi juga membanggakan sebagai kota sejarah,” pungkasnya. (ist)
