Ruang Kelas SDN Kutamaneuh 4 Ambruk, Guru dan Siswa Belajar di Gudang Sempit

Siswa di SDN Kutamaneuh 4 belajar di Gudang berukuran sempit

KARAWANG, Spirit

Hujan lebat disertai angin kenvang membuat satu ruang kelas Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kutamaneuh 4, Desa Kutamaneuh Kecamatan Tegalwaru, Karawang, Minggu (15/10) dinihari ambruk. Pembelajaran siswa terpaksa dialihkan ke sebuah gudang sempit yang berada tak jauh dari lingkugan sekolah.

“Atap bangunan ambruk menutup ruang kelas serta sejumlah alat belajar mengajar yang turut tertimpa puing-puing atap bangunan yang ambruk. Dan kondisi ruang kelasnya juga sangat berantakan,” jelas seorang guru SDN Kutamaneuh 4, Agus kepada Spirit Jawa Barat, Senin (16/10).

Dikatakan Agus, ambruknya bangunan gedung sekolah tersebut, akibat hujan deras yang disertai dengan angina kencang yang terjadi pada sekitar 03.00 Wib, Minggu (15/10) dinihari.

“Selain itu, kondisi bangunan sekolah yang sudah rapuh juga yang jadi penyebab ambruknya ruang kelas tiga itu,” katanya.

Imbas dari ambruknya bangunan ruang kelas tersebut, lanjut Agus, proses kegiatan belajar mengajar (KBM) siswa menjadi terganggu. “Guru harus mengatur waktu belajar dengan cara bergantian masuk di sisa ruang kelas yang ada,” tuturnya.

Dari pantauan di lokasi, selain kondisi ruang kelas tiga yang ambruk, ruang kelas lainnya juga terancam ambruk karena bangunan sejajar dengan bangunan kelas yang telah ambruk.

“Guru dan siswa terpaksa menghadapi bahaya kelas ambruk. Pasalnya, tidak ada ruang kelas lain yang bisa digunakan untuk proses kegiatan belajar mengajar,” ungkapnya.

Khawatir Ambruk

Puluhan siswa SDN Kutamaneuh 4, terpaksa menempati gudang sekolah yang sempit dan kumuh untuk kegiatan belajar dan mengajar (KBM). Pasalnya, tidak ada kelas lain yang lebih layak dari gedung sekolah pada umumnya.

Dikatakan salah seorang guru honorer di SDN Kutamaneuh 4, Ririn menyebutkan, siswa dan siswinya tetap bersemangat mengikuti program KBM kendati kelas yang ditempatinya jauh dari kata layak.

“Sebab, untuk melanjutkan program KBM di SDN Kutamaneuh 4 ini, mereka menempati gudang berukuran sempit. Selain itu gudang yang ditempati juga terbuat dari triplek dengan atap asbes yang sudah rapuh dan terdapat banyak lubang hamper disetiap sudutnya,” ucapnya.

Menurut Ririn, sambungnya, mendapatkan tugas mengajar di gudang tersebut, aktivitas belajar mengajar tidak bisa menjadi effektif dan maksimal. Pasalnya, siswa dan guru harus tetap waspada saat kondisi hujan turun.

“Saat hujan, maka ruangan kelas ini akan bocor hingga kegiatan belajar mengajar akan terganggu. Dan sangat terpaksa, KBM kami hentikan karena khawatir kondisi gudang kelas ambruk menimpa kami,” jelasnya.

Setiap kali hujan turunpun, tambah Ririn, KBM di SDN Kutamaneuh 4 sering dihentikan. “Kami pernah memaksakan untuk terus melanjutkan KBM pada sewaktu hujan, disitu posisinya siswa sedang menyelesaikan soal UTS. Namun akibat memaksakan soal UTS, lembar kertas jawaban rusak karena terguyur hujan,” tambah Ririn.

Sementara itu, Dahlia (10) bocah yang masih duduk di kelas lima sekolah tersebut berharap, sekolahnya mendapatkan bantuan dari pemerintah dan memiliki ruang kelas baru yang layak untuk dijadikan tempat proses KBM di SDN Kutamaneuh 4.

“Pengen enak belajarnya, takut roboh kalau gak di perbaiki,” harapnya.

Selain siswa yang harus belajar di gudang, sejumlah kelas lainnya di SDN tersebut juga mengalami kondisi kelas yang rusak berat. Bahkan, sekolah itu tidak memiliki lahan parker motor dan lapangan upacara yang biasanya dimiliki oleh setiap sekolah pada umumnya.

“Guru maupun siswa berharap, mereka bisa segera memiliki ruang kelas yang layak dan baik untuk digunakan belajar mengajar agar tidak terganggu oleh cuaca dan bisa lebih maksimal serta efektif dalam belajar,” tambah Ririn berharap. (Not)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *