KARAWANG, Spirit – Pada malam HUT Karawang ke- 383, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Karawang melakukan aksi di bunderan Mall Ramayana Karawang. Aksi tersebut merupakan refleksi terhadap kekecewaannya kepada Pemkab Karawang yang dinilai belum bisa mengatasi persoalan yang selama ini menjadi masalah utama di Kota Pangkal Perjuangan. Persoalan tersebut antara laian tingginya angka pengangguran, kemiskinan, korupsi, buruknya infrastruktur, rendahnya mutu pendidikan dan lainnya.
Ketua Umum PC PMII Karawang, Ricky Sofiyan mengatakan, hampir setiap tahun Pemkab Karawang memperingati hari jadinya. Akan tetapi, kata dia, selalu saja digelar hanya secara seremonial dan hanya dirasakan masyarakat perkotaan saja.
“Perayaan HUT Karawang itu hanya masyarakat Karawang kota saja. Masyarakat pinggiran itu tidak pernah tau kapan hari jadi Karawang. Aapalgi, manfaatnya, tak pernah dirasaknnya,” jelasnya, Rabu (14/9).
Menurutnya, Pemkab Karawang dalam melakukan pembangunan mengabaikan skala prioritas dan cenderung menghambur-hamburkan uang. Terlebih lagi untuk acara seremonial di HUT Karawang. Karena itu, dampaknya tidak seluruhnya dirasakan masyarakat Karawang.” Hampir setiap tahun pemkab merayakan hari lahir Karawang, akan tetapi tidak pernah lahir dengan aktualisasi jati diri sebagai warga Karawang yang sebenarnya,” tegasnya.
Bahkan Ricky menilai dalam perayaan HUT Karawang kali ini, Pemkab justru bukan merayakan hari lahir, akan tetapi merayakan hari matinya Karawang. ”Seharusnya di usia 383 tahun, Karawang menjadi lebih baik lagi dengan kemampuaqnnya menyelesaikan permasalahan yang terjadi. Saya menilai Pemkab Karawang ini belum sepenuhnya memperjuangkan rakyatnya untuk menjadi lebih baik, Karena segudang permasalahan masih terus terjadi dan dirasakan rakyat Karawang,” terangnya.
Bagi Ricky sejarah masa lalu merupakan simbol kekuatan untuk masa depan. Karena itu, keberadaan Karawang sebagai kota sejarah, harusnya Pemkab memperhatikan dan melestarikan sejarah budayanya. “Banyak sejarah dan budaya di Karawang yang sampai hari tidak terawat dan dilestarikan, bahkan rusak berat,” ujarnya.
Pemkab Karawang pun dinilai saat ini hanya menampilkan bentuk pencitraan saja sehingga, persoalan yang semestinya diselesaikan, tetap saja dibiarkan.”Kami tidak butuh pencitraan tapi yang kami mau pembuktian. Jadi kami rasa Pemkab Karawang bukan merayakan hari lahir Karawang tapi sedang merayakan hari matinya,” utasnya. (cr1)
