BEKASI, Spirit – Kondisi banjir yang melanda salah satu area pembangunan jembatan baru miliaran rupiah mengecewakan warga. Kompleks Nasio Jati Kramat dan Kompleks IKIP yang dibangun jembatan Dinas Bina Marga dan Tata Air (Disbimarta) Kota Bekasi tetap dilanda banjir setinggi leher.
Menanggapi hal itu Kepala Disbimarta setempat, Tri Adhianto Cahyono mengatakan bahwa fungsi jembatan bukan menanggulangi banjir. “Memang booming pembangunan jembatan di Kota Bekasi telah usai dilakukan. Dinas Bina Marga dan Tata Air (Disbimarta) bertanggungjawab terhadap kegiatan yang berkaitan dengan jembatan sebanyak sebelas buah. Namun itu semuanya hanya untuk melancarkan transportasi, perekonomian lantas hubungan antar lokasi sebagai sirkulasi roda ekonomi, bukan untuk menanggulangi banjir,” kata Tri saat peresmian gedung Denki Enginering pada Spirit Jawa Barat Rabu (28/9)
Kadisbimarta mengatakan bahwa setiap kegiatan pasti ada urgensinya. “Perencanaannya tentunya sudah dilakukan beberapa tahun yang lalu kemudian dilakukan survey lapangan. Komponen semuanya terkait dengan pentingnya dilakukan pembangunan jembatan, pelebaran atau renovasi seperti kondisi usia jembatan, lantas juga kepadatan lalu lintas serta antisipasi bencana banjir menjadi pertimbangan yang utama,” tandas Tri.
Menurutnya, jika masih saja di wilayah kompleks IKIP dan Nasio banjir pun karena proses belum selesai. “Jembatan itu juga masih banyak terjadi kecelakaan jadi jika dikatakan selesai baru 30 % saja,” terangnya.
Berdasarkan data Spirit Jawa Barat anggaran yang dikucurkan untuk satu jembatan berkisar Rp 2 miliaran hingga Rp 20 miliaran. Kini warga masih menunggu hasil yang langsung berdampak padawarga. Seperti antisipasi atau jika mungkin meniadakan banjir Nasio, kompleks IKIP yang jadi harapan warga.
Sementara itu Widayat Subroto Hardi selaku Kepala Bidang Bina Marga dan Tata Air Disbimarta Kota Bekasi mengakui adanya hambatan di lapangan. “Hambatan terkait dengan utilitis yang ada seperti Saluran Kabel Tegangan Menengah (SKTM) PLN kemudian kabel optic Telkom serta pipa Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) mereka butuh waktu untuk melakukan penmggeseran. Namun sekarang semuanya koperatif di lapnagn karena semua terkait dengan kepentingan,” ujar Broto panggilan akrab Widayat. Diakuinya memang ada efek samping yang harus terjadi tetapi itu pun sementara. Setelah itu akan lebih baik kondisinya dari sebelumnya.
Pantauan Spirit Jawa Barat di beberapa lokasi justru tidak ada skala prioritas pembangunan. Kesan proyek insidentil terlihat di Wibawa Mukti Jatiasih, Jati Sampurna terkesan proyek tanpa risiko yang dilaksanakan. Akhirnya jalanan yang bagus pun dibongkar sementara yang tergenang dibiarkan apa adanya. (kos)
