Oleh: Diniar Nur Fadilah*



Ketika ada satu hari dalam setahun diperingati sebagai Hari Pahlawan, ada banyak cara untuk memperingatinya. Yang paling ‘melegenda’ tentulah datang ke lapangan dan ikut upacara bendera. Atau dengan berziarah ke Taman Makam Pahlawan seraya mendengarkan lagu Gugur Bunga. Atau supaya ‘kekinian’ , alternatif lain yang bisa dilakukan adalah dengan mengunggah foto bernuansa abu-abu dengan caption pengorbanan di social media.

Banyaknya cara memperingati Hari Pahlawan tidak terlepas dari beragamnya pengertian pahlawan itu sendiri. Ada belasan ahli dan tokoh yang mengemukakan pengertian pahlawan  yang hari ini banyak dikutip sebagai caption Instagram.

Namun, pernahkah terfikirkan oleh kita sekali saja sepanjang hidup untuk memberikan pengajaran tentang arti pahlawan kepada keluarga kita sendiri? Pernahkah kita memberi tahu arti pahlawan menurut kita sendiri kepada si kecil melalui contoh-contoh sederhana? Sepertinya tidak pernah. Kita sudah terlanjur mempercayakan guru-guru di sekolah mereka untuk menjelaskan apa itu pahlawan. Buku-buku terbaik kita datangkan agar si kecil dapat belajar arti pahlawan menurut ahli A, ahli B, dan seterusnya.

Untuk anda yang ingin memberikan pengertian apa itu pahlawan kepada si kecil, tidak perlu lah menggunakan istilah-istilah rumit. Cukup katakan saja bahwa pahlawan adalah mereka yang rela berkorban ketika terjadi situasi yang tidak menguntungkan bagi banyak orang. Untuk memahamkannya, tidak perlu juga dengan memberi contoh-contoh yang membingungkan. Cukup dengan mengajaknya bersafari seharian dan bisa dijamin anda akan menjadi tokoh yang akan si kecil kutip jika kelak mereka ditanya apa itu pahlawan oleh orang lain.

Sesekali ajaklah keluarga anda, terutama si kecil untuk berlibur! Pergi ke taman kota di pagi sangat baik untuk permulaan. Tidak perlu melakukan kegiatan yang menguras tenaga. Cukup ajak si kecil untuk duduk tenang di bawah pohon rindang. Tidak perlu juga menasehati macam-macam. Cukup tanyakan bagaimana rasanya duduk dibawah pohon rindang.

Setelah dirasa cukup atau si kecil mulai rewel, berpindahlah ke sebuah persimpangan jalan yang padat oleh kendaraan! Carilah tempat yang paling terpapar sinar matahari! Jika si kecil semakin rewel katakan saja, “Jadilah kau pahlawan, nak. Jadilah kau orang yang menghabiskan banyak uang untuk membeli bibit pohon, bukan untuk membeli kendaraan pribadi lagi dan lagi.”

Jika hari semakin siang, ajaklah si kecil ke kantor seorang pengacara. Mungkin kali ini akan sedikit rumit. Berikan tugas untuk menanyakan berapa banyak kasus yang telah dimenangkan oleh pengacara tersebut dan siapa saja kliennya. Sebelumnya jangan lupa untuk menjelaskan secara singkat siapa dan apa tugas dari pengacara.

Kemudian ajaklah si kecil ke lembaga pemasyarakatan. Jangan sekali-kali mengatakan bahwa tempat tersebut adalah tempat untuk menghukum orang-orang jahat. Berikan tugas lagi untuk si kecil. Kali ini, suruh ia untuk bertanya pada opsir tentang apa saja yang termasuk dalam tindak pidana. Tentunya sang opsir akan memberikan jawaban yang bermacam-macam seperti mencuri, membunuh, korupsi, penggelapan pajak, dan pencemaran nama baik.

Setelah itu, giliran anda yang bertanya pada opsir tersebut. Tanyakan siapa saja yang ditahan di sana dan pidana apa yang telah mereka lakukan. Jika si kecil kebingungan, tidak perlu menjelaskan “Beginilah hukum di negerimu, nak. Tajam ke bawah tumpul ke atas”.  Cukup katakan “ Jadilah kau pahlawan, nak. Jadilah kau orang yang menggunakan pengetahuanmu untuk menyalahkan orang yang bersalah, bukan untuk membela yang punya banyak uang dan menyalahkan mereka yang tidak mampu membayarmu mahal.”

Sebagai penutup, ajaklah si kecil untuk membawa uang tabungannya ke pusat perbelajaan. Kemudian tanyakan apa yang ia ingin beli dengan uang itu. Mungkin ia akan menginginkan mainan baru seperti milik temannya di sekolah. Mungkin juga ia ingin membeli makanan yang sangat ia inginkan selama ini. Atau mungkin ia akan menginginkan baju baru seperti yang dikenakan oleh temannya kemarin.

Apapun yang ia inginkan, beralihlah ke toko buku dan minta izinlah untuk membeli beberapa alat tulis dan buku cerita menggunakan tabungannya. Tentu ia akan memprotes anda bahkan bisa jadi ia akan menangis dengan sangat kencang di keramain. Tenangkan ia dengan tetap tidak menuruti keinginannya.

Dalam perjalanan pulang, jangan lupa untuk mampir ke panti asuhan atau ke kolong jembatan untuk memberikan alat tulis dan buku cerita yang telah dibeli menggunakan tabungan si kecil. Biarkan si kecil yang melakukannya sendiri. Jika ia masih merajuk, tidak perlu mengatakan “kamu harus berbagi pada mereka yang membutuhkan.” Cukup katakan “Selamat, kau sudah menjadi pahlawan hari ini, nak. Kau telah menjadi orang yang mau mengorbankan apa yang kau miliki untuk mereka yang lebih membutuhkan ketimbang memenuhi apa yang diinginkan egomu.”

Mungkin perkataan anda akan menjadi dongeng pengantar sebelum tidur baginya yang telah melewati hari yang melelahkan. Tapi percayalah, keesokan harinya, pengalaman yang anda berikan akan menempati ruangan tersendiri dalam alam bawah sadarnya. Pengertian tentang arti pahlawan yang anda berikan akan bersanding dengan pengertian pahlawan menurut ahli A, ahli B, dan seterusnya yang telah anak anda pelajari di luar rumah.(*)

 

* Mahasiswa Program Studi Manajemen Dakwah Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta