PERAYAAN HUT ke-71 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kabupaten Purwakarta, Rabu (17/8), diawali dengan diaraknya bendera pusaka milik Pemkab Purwakarta dengan mengunakan Kereta Kencana Nyi Mas Malati. Peristiwa langka ini disaksikan ratusan warga yang memadati jalan yang dilalui kereta kuda tersebut.
Latifah (27), warga setempat, yang menyaksikan momen ini, mengaku, cukup senang. Ia bersama dua rekannya tidak lupa mengambil foto peristiwa tersebut dari kamera telepon genggamnya.
“Ini momen yang cukup bagus yang digagas Kang Dedi (sapaan akbrab Bupati Purwakarta), karena selama ini pengibaran bendera pada 17 Agustus biasanya monoton. Tapi sekaranh ada unsur budaya yang dimasukkan,” ujarnya.
Latifah senang bisa menyaksikan arak-arakan bendera yang dibawa menggunakan kereta kuda dan dikawal oleh anggota TNI dan Paskibra. Ia berharap ini bisa dilakukan setiap tahun dengan mengunakan rute yang lebih panjang lagi.
“Semoga acara ini bisa ditiru di daerah lain karena memiliki daya tarik sendiri untuk melestarikan seni budaya yang memang harus kita jaga jangan sampai hilang,” katannya.
Spirit Jawa Barat memantau, sebelumnya kotak bersisi bendera tersebut dikeluarkan dari Gedung Negara Bale Nagri pada Senin 15 Agustus petang. Bendera dikeluarkan melalui serangkaian ritual yang menggabungkan unsur protokoler dengan seni budaya khas Sunda.
Kemudian, kemarin kotak tersebut dibawa menuju ke Taman Pasanggrahan Padjajaran, tempat upacara hari kemerdekaan. Kotak bendera dibawa oleh salah seorang anggota paskibra wanita yang duduk memangkunya di dalam Kereta Kencana Nyi Mas Malati.
Kereta kencana itu mengarak sang pembawa kotak dengan diiringi paskibra lainnya dan pasukan TNI yang membawa senjata salvo. Mereka berjalan ke Taman Pasanggrahan Padjajaran melalui jalan protokol yang mendapat sambutan meriah warga yang menunggu sepanjang jalan.
Sekira 20 menit perjalanan kereta kencana memasuki Taman Pasanggrahan Padjajaran yang berada di lingkungan Pendopo Purwakarta. Di tempat itu unsur muspida dan tamu undangan sudah menunggu kedatangan kereta kencana yang membawa kotak berisi bendera yang nantinya akan dikibarkan dalam upacara.
Kotak tersebut secara simbolis diterima oleh Sekda Kabupaten Purwakarta, Fadil Karsoma, yang sudah menunggu di Bale Maya Datar bersama unsur muspida dan para tamu undangan peserta upacara.
Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, seusai upacara pengibaran bendera menjelaskan, kirab bendera yang dia gagasnya itu, sebenarnya sejalan dengan visi Presiden RI, Joko Widodo. Menurut dia, simbol-simbol nasionalisme harus didekatkan kepada masyarakat agar semakin terasah potensi persatuan yang selama ini sangat nisbi.
“Potensi bangsa Indonesia itu kan persatuan. Momentum kirab di Istana Negara maupun di Purwakarta itu satu visi yakni mendekatkan masyarakat kepada simbol persatuan, simbol kenegaraan, juga mendekatkan simbol negara kepada akar kebudayaannya,” ujar Dedi.
Lebih jauh Dedi menyebutkan, warna merah dan putih sangat akrab dalam kehidupan sosio-kultural orang Sunda sehingga saat orang Sunda memberikan nama untuk anaknya pastilah membuat bubur merah dan bubur putih. Ditambah, menurut dia, saat orang Sunda mendirikan bangunan, pasti kain merah dan kain putih selalu diikatkan di salah satu tiang pancang bangunan tersebut.
“Merah Putih itu lahir dari kehidupan masyarakat Nusantara, masyarakat Sunda diantaranya. Kasih nama anak pakai bubur merah dan bubur putih. Mendirikan bangunan, tiangnya diikat kain merah dan kain putih. Coba lihat deh ke kampung-kampung. Mereka memelihara kebiasaan itu sampai saat ini,”katanya.
Ipacara diikuti satuan Kopassus, Paskhas TNI AU, Kavaleri, Yon Armed dan Brimob. Turut pula hadir sebagai tamu VIP seluruh jajaran Forum Komunikasi Pemerintah Daerah Kabupaten Purwakarta. (rizal/spirit jawa barat)
