Dibidik Kejaksaan, Turap TPA Jalupang Diduga Salahi Bestek

 

KARAWANG, Spirit

Dugaan korupsi proyek turap di TPA Jalupang Desa Wancimekar Kecamatan Kotabaru Kabupaten Karawang yang merupakan pekerjaan tahun anggaran 2014 bernilai 700 juta rupiah kembali menjadi sorotan banyak pihak setelah Kejaksaan Negeri (Kejari) Karawang akan meningkatkan status ke penyidikan.

Kepada Spirit Jawa Barat, seorang Mandor pekerjaan di TPA Jalupang, Rebing, mengatakan jika sedari awal ia menilai struktur tanah di TPA Jalupang tidak dapat menopang turap yang pada 2014 dibangun, sehingga ketika ia menjadi mandor pekerjaan di Tahun 2015, pekerjaan hanya sebatas dicor. Hal itu dikatakan Rebing menjadi faktor eksternal mengapa turap di TPA Jalupang mudah roboh.

“Kalau pada tahun 2014 saya tidak memandori, saya mulai di 2015. Saya rasa ada juga faktor alamnya” katanya.

Sementara itu Ketua AJK, Entang M Sonjaya mengatakan pekerjaan yang dilakukan oleh CV Karangsurya tersebut juga dinilai fisik pekerjaan kurang maksimal karena tidak bisa memenuhi bestek proyek yang telah ada. Nilai anggaran yang tersedia dianggap tidak bisa memenuhi bestek yang telah ada, sehingga selain faktor alam, juga dipengaruhi proyek yang tidak sesuai bestek pekerjaan.

Seperti diketahui dugaan korupsi proyek turap di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jalupang yang menelan anggara 700 juta rupiah akan memasuki babak baru. Pasalnya, dalam waktu dekat Kejaksaan Negeri (Kejari) Karawang akan meningkatkan status penyelidikan (lid) ke tahap penyidikan (dik).

Kepala Kejaksaan Negeri Karawang, Soekardi kepada awak media mengatakan proyek yang dilaksanakan pada tahun 2014 lalu tersebut terindikasi adanya praktek korupsi karena proyek pengerjaan tidak sesuai dengan Rencana Anggaran dan Biaya (RAB) yang telah ditentukan. “Dalam waktu dekat kita akan tingkatkan ke proses yang lebih lanjut,” ujar Sukardi, Selasa (9/5).

Sukardi mengatakan hasil temuan tim yang ditugaskan untuk mencari data terkait dugaan korupsi proyek turap yang menjadi bagian dari mega proyek TPA Jalupang yang juga dalam pelaksanaannya mengalami berbagi permasalahan. Penampakan fisik turap tersebut saat ini, dikatakan Sukardi sangat mengkhawatirkan. Terlebih dalam kurun waktu tiga tahun sudah dilaksanakan dua kali perbaikan. Hal tersebut menandakan adanya ketidakberesan proyek tersebut.

“Kondisinya sangat mengkhawatirkan. Yang ditakutkan kalau musim hujan turun dan volume sampah banyak, turap bisa ambrol,” paparnya. (mhs)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *