Konfirmasi Pembangunan Pagar Rp 2 Miliar Wartawan Dikeroyok Preman

BEKASI, Spirit – Kekerasan terhadap wartawan kembali terjadi. Kali ini menimpa wartawan Demokrasi News, Ahmad Zarkasi yang dikeroyok dan dianiaya preman. Ironisnya, justru Tempat Kejadian Perkara (TKP) terjadi di Kantor Kecamatan Pondok Gede, Kota Bekasi Senin (16/5).

Kronologi kejadian saat Zarkasi melakukan tugas jurnalistik terkait pembangunan pagar lapangan Pondok Gede. “Lokasi saya foto termasuk juga dengan pagar lapangannya untuk meminta konfirmasi terkait dengan pembangunan yang dari segi kualitas sangat buruk meski anggarannya sekitar Rp 2 Miliar,” kata Zarkasi pada Spirit Jawa Barat.

Usai memotret lokasi lanjut Zarkasi, dirinya bermaksud menemui Camat Pondok Gede, Chairul Anwar. “Saya minta ijin Satuan Pol PP Kecamatan bernama Bambang dan dia bilang Camat tidak ada di tempat. Saat ditanyakan dimana keberadaan Camat dibilang tidak tahu. Tapi ternyata saat saya keluar dari kantor Kecamatan saya pergoki ada mobil dinas Camat.” terang Zarkasi.

Selanjutnya Zarkasi langsung membuka ruang kerja dan ternyata Camat Chaerul ada di tempat. “Bagaimana kinerja sebagi pelayan masyarakat jika mau konfirmasi saja dipersulit, artinya seorang Pol PP Bambang melakukan kebohongan publik. Kekesalan itu saya luapkan pada Bambang dengan marah besar akibat Bambang tak jujur,” papar Zarkasi, pria asli Bekasi.

Perang mulut antara Pol PP Pondok Gede dengan Zarkasi pun tak bisa dihindarkan. “Bambang mengancam saya dengan ucapan siap panggil preman untuk menghajar saya dan ternyata benar terjadi. Tiba-tiba datang tiga orang preman mengeroyok. Kepala saya dibenturkan pintu kusen lantas saya ditendang berkali-kali dan dipukul bagian kepala serta mata hingga memar,” cerita Zarkasi sambil melihatkan lukanya.

Setelah dianiaya preman suruhan Bambang masih mengancam agar hati-hati jika di Pondok Gede. Anehnya justru Camat Chaerul meminta agar Zarkasi minta maaf pada dirinya.
Merasa tidak terima dengan perlakuan pemukulan dan aniaya maka Zarkasi melaporkan hal itu ke Polres Kota Bekasi sekitar pukul 20.00 WIB. “Setelah bikin LP saya disuruh melakukan visum RSUD Kota Bekasi. Malam itu juga saya menyusun Berita Acara Pemeriksaan (BAP) hingga dini hari,” terang korban yang pernah bekerja di Metropolitan Mall Bekasi.

Pantauan Spirit Jawa Barat, solidaritas sesama jurnalis di wilayah Bekasi terlihat begitu erat. Para pemburu berita menunjukkan aksi solidaritas dengan mengawal korban pengeroyokan saat di Polres bahkan hingga dini hari. Kumpulan wartawan terus membicarakan kasus yang tak pantas dilakukan aparatur Kecamatan Pondok Gede itu.

Kejadian kekerasan terhadap wartawan Kota Bekasi bukan hanya terjadi kali ini saja. Beberapa saat lalu wartawan Randy dari Radar Bekasi dikeroyok akibat pemberitaan salah satu parpol. Beberapa saat kemudian, Boyke dari Bekasi Ekpres diancam termasuk anak dan keluarga setelah mengkritisi masalah-masalah terkait berita pendidikan. (kos)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *