SIAPAPUN bersepakat sosok guru adalah sosok yang harus didudukan secara terhormat dan harus dihormati. Karena dialah, seseorang bisa sukses dan berhasil setelah memperoleh siraman ilmunya. Para petinggi, pengusaha besar, atau para profesional tidak perlu ragu untuk menyatakan bahwa keberhasilannya ada andil seorang guru. Oleh karenanya sangat naif jika terhadap guru kita menyatakan dia bekas guru. Guru adalah guru, yang harus digugu dan ditiru.
Penghormatan terhadap guru – terlebih pada zaman baheula – karena memang seorang guru selalu mencerminkan pribadi terhormat. Sikap, perilaku, dan tutur katanya adalah menggambarkan pribadi berilmu, pendidik, dan terdidik. Sekalipun penuh dengan kesederhanaan, tidak neko-neko, namun dia tetap jadi panutan. Ia begitu sadar, cara mendidik – misalnya budi pekerti — yakni dengan memberikan contoh. Ia selalu tampil bersih, disiplin, sehingga tampak memiliki kharisma.
Akan tetapi, kini dalam peradaban yang semakin maju, sosok yang digambarkan di atas mulai bergeser. Kita benar-benar turut prihatin tatkala muncul berita tentang sekitar 60 persen dari 9.000 orang guru di Karawang terjerat rentenir. Hal itu diungkapkan salah satu media lokal, Senin kemarin. Ini benar-benar mencengangkan. Sudah demikian parahkah kesejahteraan guru, sehingga mereka harus terlibat dengan pemberi pinjaman yang berbunga tinggi?
Padahal masih terngiang tatkala di sekolah dasar atau sekolah menengah, para guru selalu mengingatkan jangan sampai teperdaya oleh lintah darat. Gurupun menganalogikan; lintah adalah hewan penghisap darah, sementara darah penting bagi hidup manusia. Jika darah habis, maka tamatlah riwayat hidup seseorang. Begitulah dengan rentenir, tak ubahnya hewan penghisap darah. Karenanya janganlah terjebak oleh rayuan lintah darat. Lintah darat sendiri di yaumil akhir, akan menghadapi siksa yang pedih. Begitu kata guru.
Namun kenyataannya kini di Karawang, guru justru terjerat rentenir yang muncul dalam berbagai bentuk. Bahkan boleh jadi di tempat lain. Ini sangat menyedihkan. Jika benar apa yang disampaikan Kadisdikpora Karawang, bahwa sebagian besar guru sudah terlibat dengan rentenir, boleh jadi di kelas-kelas sekarang tidak akan ada lagi guru memperingatkan muridnya untuk menjauhi rentenir sebagaimana pada masa lalu. Tidak akan ada lagi guru mendongengkan lakon Nyi Endit, sosok yang digambarkan seorang yang pelit, kejam, dan selalu merampas harta orang jika uang yang dipinjamkannya tidak dikembalikan tepat waktu. Nyi Endit dengan hartanya pun tenggelam oleh air bah dan tempat tenggelamnya menjelma jadi Danau Bagendit, di Garut.
Inilah kedahsyatan budaya hedonisme, budaya yang menjebak seseorang untuk selalu haus akan tampilan, memiliki barang baru, atau panas hati oleh orang lain. Ini pun tak bisa dipungkiri masuk ke relung-relung dunia pendidikan tidak hanya pada sosok guru. Bukti itu terucap dari Kadisdikpora Karawang,”Saya berharap para kepala UPTD bekerjanya lebih giat. Mobilnya kan mewah-mewah. Saya saja yang Kadisdikora mobilnya mobil murahan, kok,” katanya. Wajar jika rentenir berbinar!***
