KARAWANG, Spirit

Puluhan warga Dusun Krajan I RT 06 RW 01, Babakan ngantai, Desa Gintungkerta, Kecamatan Klari, mengancam akan menduduki perlintasan Kereta Api (KA). Pasalnya, uang kerohiman sebesar Rp 250 ribu atas tanah yang ditempatinya selama puluhan tahun dari PT KAI, dinilai warga sangat tidak manusiawi.

Herman Fahrijal (55) wakil Dusun Krajan I,mengatakan warga kebingungan setelah PT KAI melayangkan surat pemberitahuan perihal pengosongan rumah yang mereka tempati. Pesan dalam surat berisi PT KAI akan melakukan pembongkaran di lahan yang ditempati warga.

Kita bingung kemana harus pindah, pasalnya dengan penggantian uang senilai Rp 250 ribu per metar dinyatakan tidak realistis. Karena dengan uang segitu, tidaklah cukup untuk mencari tempat pengganti untuk kami tinggal, katanya, Kamis (6/4).

Uang ganti rugi atas bangunan sebesar Rp 250 ribu dinilai warga tidak manusiawi. Seharusnya PT KAI memberikan kompensasi yang sesuai berkisar Rp 1 juta permeternya bagi warga. Kalau mereka (PT KAI) tidak memenuhi tuntutan, warga yang tergusur mengancam akan menduduki pelintasan rel kerata api sampai permintaannya dikabulkan.

Karena masyarakat yang tergusur ini rata-rata warga yang kurang mampu. Kami juga meminta kepada PT KAI untuk menunda penggusuran sampai lebaran nanti dan kita mendapat tempat tinggal yang layak, ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Desa Gintungkerta, Kecamatan Klari, Lili Ahmad Sopyan menjelaskan, ia mendukung apa yang dilakukan warga Dusun Krajan I, RT 06 RW 01, Desa Klari, Kecamatan Klari. Bahwa penggantian uang kerohiman sebesar Rp 250 ribu memang diluar batas kewajaran dan tidak manusiawi.

Karena untuk jaman sekarang ini harga tanah di Karawang mahal dan dengan harga segitu tidaklah cukup. Kalau tidak dana kerohiman tersebut ditambah dengan dana CSR (corporate social responsibility) dari PT KAI atau PT BIMA (pabrik semen), jelasnya.

Menurut Lili, karena menurut informasi nantinya lokasi yang awalnya ditempat warga Dusun Krajan I, Desa Gintungkerta, Kecamatan Klari akan dibikin jalan dan gudang penyimpanan semen PT BIMA. Sebab lokasi tersebut sangat strategis ke jalan raya, bahkan ke pintu tol Karawang Timur.

Saya berharap Bupati Karawang, Cellica Nurrachadiana menyikapi hal tersebut. Mengingat ini untuk kepentingan warga Karawang juga, bukan kepentingan pribadi atau perusahaan, pungkasnya.

Perlintasan kereta api tanpa palang di Sadewa, Semarang, Selasa (15/7/14). Kepolisian menilai perlintasan kereta api yang tak berpalang perlu dijaga petugas selama arus mudik untuk menghindari kemungkinan bahaya kecelakaan.-SINDO/Arif Nugroho