KARAWANG, Spirit
Peristiwa kelanggan gas elpiji 3 kilogram atau sering disebut gas melon hampir merata di wilayah Karawang. Tak terkecuali di Desa Pasirmukti, Kecamatan Telagasari juga tidak jauh beda. Malahan di Desa Ciwaringin sejumlah masyarakat mulai ganti menggunakan kayu bakar. Namun sayangnya karena musim hujan menjadi kendala untuk mendapatkan kayu bakar.
Kelangkaan gas melon yang sudah meresahkan ini, akhirnya ditumpahkan saat acara kunjungan kerja Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI), Dadang S Muchtar, di Desa Pasirmukti, Kecamatan Telagasari Sabtu (27/2). Wakil rakyat ini diberondong pertanyaan dari warga setempat sekaligus menuntut adanya solusi konkrit.
Wandi, salah satu warga setempat mengatakan kelangkaan gas jangan sampai berlarut. Dia meminta pemerintah dapat memfasilitasinya, karena gas elpiji merupakan kebutuhan pokok. “Selagi gas ada, harganya tinggi. Bahkan sering sampai lebih dari Rp20 ribu. Padahal harga normal sekitar Rp16 sampai Rp17 ribu saja,” keluhnya.
Ia juga menambahkan, efek kelangkaan gas elpiji akhirnya, membuat sebagian warga berinisiatif berganti dengan minyak tanah, namun, hal itu juga kerapkali sulit didapatkan. ”Sementara kayu bakar juga susah. Harus dicari dulu ke kebun. Tolonglah pak, bantu masyarakat kecil ini,” ucapnya.
Menanggapi itu, Dadang S Muchtar hanya bisa geleng-geleng kepala. Pasalnya memang kondisi di lapangan, gas langka. Namun dirinya selaku wakil rakyat yang duduk di Senayan berjanji akan menyampaikan problem yang kini terjadi di Karawang.
“Sebelumnya soal gas bukan ada di Komisi II DPR-RI. Tapi, tidak bisa menampik jika ada keluhan harus ditampung. Karena ini kunjungan perorangan untuk menyerap aspirasi, nanti saya sampaikan keluhan kelangkaan gas ini di pusat,” katanya.
Politisi Partai Golkar ini juga menekankan supaya pemerintah segera berinisiatif untuk mengatasi kelangkaan. Kata dia, begitu ada persoalan pada masyarakat, pemkab harus mampu memberikan solusi. “Saya tekankan ke bupati dan dinas supaya melakukan tindakan secepatnya. Ini urgen menyangkaut kebutuhan masyarakat,” tegasnya.
Hiswana Migas Dipisah
Sementara itu, Sekretaris Komisi C DPRD Karawang, Suryana mendorong Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) Karawang dipisah dengan Purwakarta. Hal itu dilontarkannya, karena dirinya merasa geram lantaran Karawang sering mengalami kelangkaan sementara Purwakarta tidak. “Kedepan lebih baik dipisah, agar pendistribusiannya jelas,” katanya, Jumat (26/2).
Kegeramanan politisi Parti Golkar ini pun bertambah tatkala Hiswana Migas tidak hadir dalam rapat hearing bersama anggota legislatif beberapa hari lalu. “Kami butuh penjelasan dan jawaban, tapi justru tidak hadir. Penginnya seperti apa sih Hiswana Migas itu,” ucapnya dengan nada tinggi.
Ketua Komisi B DPRD, Danu Hamidi, turut meng-iya kan perkataan Suryana. Kelangkaan gas hanya terjadi di Kabupaten Karawang sementara wilayah kerja Hiswana Migas meliputi Karawang dan Purwakarta.
Hal tak jauh berbeda dikatakan Ketua Komisi B, Danu Hamidi yang menduga pendistribusian gas melon tersebut dialihkan ke daerah lain. “Perlu dipertanyakan juga mengapa kelangkaan gas seringkali di Karawang”
Sementara itu, Bupati Karawang Cellica Nurrachadiana berjanji akan melakukan operasi pasar secepatnya. Hal itu dikatakan setelah pada hari Jumat lalu (26/2) Pemerintah Daerah melakukan rapat koordinasi dengan pihak legislatif. “Untuk waktunya tidak bisa kami sebutkan. Khawatir bocor,” ujarnya.
Ketika disinggung sikap Pemda dengan adanya dorongan pemisahan wilayah kerja Hiswana Migas, Cellica masih harus lakukan pembahasan dengan DPRD. “Kita masih koordinasikan termasuk dengan Hiswana Migas,” jelasnya. (yan/fat)