CILAMAYA, Spirit

Program Santripreneur merupakan jawaban atas semakin sempitnya kesempatan usaha ditengah pesatnya pertumbuhan penduduk. Terlebih lagi, seiring dengan diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) menambah tingkat kompetisi semakin tinggi. Sehingga, program penyaluran kredit permodalan bagi kalangan santri dinilai sangat tepat untuk mendorong produktifitas usaha yang dilakukan.

“Jumlah penduduk yang besar tapi kesiapan pemerintah mempersiapkan peluang kerja tidak berimbang, tentu wirausaha menjadi jalan yang tepat. Sehingga, anugerah Tuhan yang diberikan kepada kita dengan potensi Indoensia yang luar biasa dapat dikelola dan berkembang dengan lebih maju,” ujar Kepala Cabang Bank Mandiri Cikampek, Tarmidi saat acara Program Kerjasama Penyaluran KUR kepada Santripreneur Binaan PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk. Serta Penandatanganan MoU BMT Niaga Utama-Bank Syariah Mandiri, di Ponpes Ash Shiddiqiyah 3, Desa Sukatani, Kecamatan Cilamaya Wetan, Kabupaten Karawang, Senin (15/2).

Menurut Tarmidi, diberlakukannya MEA tentu akan lebih mempersempit kesempatan masyarakat dalam berusaha jika tidak dibekali kesiapan untuk berkompetisi. Sehingga, keberadaan tenaga kerja asing, akan mendominasi ketimbang warga negara Indonesia. Untuk itu, dirinya berharap, kegiatan ini dapat menjadi kontribusi dalam memakmurkan masyarakat Indonesia. “Semoga saja, program santripreneur bisa menjadi bagian untuk memakmurkan negeri. Bank Mandiri bukan hanya melihat sisi bisnisnya, tetapi tumbuh kembangnya usaha para santri,” Jelasnya.

Sementara itu, Sekretaris Himpunan Pengusaha Nahdliyin Provinsi Jawa Barat, Adlan Da’i mengakui adanya problem permodalan yang kerap kali terjadi dengan usaha para santri dan ustadz. Sehingga, kehadiran program santripreneur merupakan program yang tepat sebagai solusinya. “Problem santri dan masyarakat pedesaan itu permodalan. Jadi kalau solusi persoalan tersebut sudah ketemu seperti program ini, tujuan bernegara dan bermasyarakat, fiddunya hasanah dan wafil akhirah hasanah,” ungkapnya.

Adlan pun menyatakan, geliat eksistensi HPN sudah mulai tampak. Bahkan kata dia, Ketua umum HPN Pusat, Abdul Khaliq merupakan satu dari empat pelaku usaha tenaga tata surya di Indonesia, yang tidak hanya bergerak di bidang perangkatnya saja, namun termasuk pabrikasi tenaga surya. “ Dalam waktu dekat nanti akan kita gelar expo HPN di Karawang. Kalau saat ini, masih kita agendakan untuk pelantikan bersama pengurus HPN Karawang, Bekasi dan Kota Bekasi,” imbuh Adlan.

Dikesempatan yang sama, Staf Khusus Menteri Desa dan PDT, Ja’a Maliki mengapresiasi program tersebut. Pasalnya, kata dia, selama ini mayoritas program yang berlaku hanya bersifat karitatif tanpa adanya kontinyuitas untuk pemantauan perkembangan usaha. Aapalgi, mayoritas warga nahdliyin lebih tertarik dalam dunia politik daripada konsen dalam penguatan usaha ekonomi warga.

“Yang karitatif atau derma bukan tidak baik, tetapi, langkah pendekatan produktifitas semacam ini jauh sangat lebih baik. Apalgi ada pendampingan terhadap manajerial usaha,” ungkapnya.

Hal tak jauh berbeda ditegaskan Pengasuh Ponpes Ash Shiddiqiyah, KH Hasan Nuri Hidayatullah. Dirinya berharap program bagi santri dan ustadz ini mampu meningkatkan taraf perekonomian melalui pembinaan dari Bank Mandiri. Sehingga, para ustadz ketika mempunyai usaha yang cukup maju, tentunya jauh dari sikap thoma’ (terlalu berharap dari orang lain, red).

“Ustadz nantinya tidak hanya bisa menyampaikan ilmu, tetpai juga sukses dalam berusaha. Ustadz tidak hanya bahtsul masail, tetapi juga tahlilul masail,” tuturnya.

Ditambahkan Gus Hasan, sapaan akrabnya, dalam usaha apapun, diharapkan agar tidak meninggalkan empat sifat nabi yakni Shiddiq, Aamanah, Tabligh dan Fathonah. Pasalnya, kesuksesan seseorang bukan hanya dari  usaha yang dilakukan. “Persoalan kecil akan tampak berat manakala semangatnya kecil. Tapi persoalan besar, akan terasa ringan manakala semangatnya besar. Jadi, semua butuh proses. Tak ada persoalan besar, karena semua tergantung semangat dan tekad seseorang,” imbuh Rois Syuriyah PCNU Karawang ini.

Disampaikan pula oleh Gus Hasan, BMT Niaga Utama yang bekerja sama dengan BSM, selama tiga tahun beroperasi, omsetnya telah mencapai Rp 2,5 miliar dengan anggota 4000 orang dengan Non Performing Loan (NPL) atau tingkat kemacetan kredit 0%. Padahal, dana awal sebelumnya hanya Rp 200 juta. (top)