KARAWANG, Spirit

Terjadinya curah hujan yang tinggi sejak tanggal Kamis (21/4) menyebabkan banyak desa di beberapa kecamatan di kabupaten Karawang terendam banjir.  Meskipun saat ini, genangan air telah mulai surut, namun akses jalan di beberapa tempat mengalami longsor dan terputus.

Seperti halnya yang terjadi di Desa Karangligar Kecamatan Telukjambe Barat, bebrapa akses jalan terputus sehingga tidak bisa dilalui. Akibatnya proses evakuasi sempat terhambat dan hanya perahu yang bisa menuju lokasi banjir. Bahkan warga yang ada dipengungsian tidak bisa ke rumahnya untuk menyelamatkan sebagian barang-barang yang masih tertinggal di rumahnya.

Tak jauh berbeda di Dusun Mujiah Desa Karang Mulya Telukjambe Barat, akses jalan terputus akibat longsornya badan jalan.

Dampak banjir di Karawang cukup menyisakan banyak persoalan. Pemerintah kabupaten diharapkan segera melakukan penanganan serius termasuk efek timbulnya penyakit paska banjir.

Diketahui, banjir di Karawang merendam rumah warga selama 3 hari di 9 desa 4 kecamatan, yakni Telukjambe Barat, Karawang Barat, Batujaya dan Pakijaya. Sedangkan 9 desa yang terendam banjir yaitu desa Karangligar, Parung Sari, Kelurahan Tanjung Mekar, Kelurahan Karawang Kulon, Kelurahan Tanjung Pura, Kelurahan Nagasari, Desa Segaran, Desa Teluk Buyung, dan Desa Teluk Jaya. Sedikitnya 1.053 jiwa yang sempat mengungsi, saat ini berangsur mulai kembali ke rumah masing-masing. Meskipun, di dua kecamatan yaitu Batujaya dan Pakisjaya masih terendam banjir.

“Sebagian daerah banjir memang mulai surut dan warga yang mengungsi juga sudah mulai kembali ke rumah. Hanya dibeberapa desa yang masih mengalami banjir karena air belum juga surut. Masih dua kecamatan dan 4 desa yang terendam banjir yaitu di Kecamatan Batu Jaya dan Pakis Jaya. Ada sekita 400 jiwa yang masih mengungsi,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karawang, Asip Suhendar.

Sampai saat ini, warga Dusun Pengasinan Desa Karangligar masih waspada meskipun tinggi air mulai berkurang. Salah seorang warga setempat mengaku masih belum merasa aman. Pasalnya, banjir yang dialami warga Desa Karangligar merupakan banjir karena curah hujan yang tinggi dan mendapat suplesi dari sungai Citarum dan Cibeet serta limpasan air bending Walahar.

“Makanya kita terus memantau perkembangan hujan di Bandung dan Bogor. Jika disana hujan lebat, maka kita disini sudah siap-siap membereskan barang-barang,” kata Dede. (fat,top)