Karawang, Spirit
Sekolah Menegah Kejuruan yang sejatinya merupakan tempat dan sarana untuk mendidik siswa-siswi dan juga menghantarkan siswa ke pendidikan yang lebih tinggi bahkan dunia kerja. Namun apa jadinya jika sekolah dimanfaatkan oleh oknum dengan tujuan untuk mengeruk untung dari siswa-siswinya.
Seperti halnya yang terjadi di Sekolah Menegah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Rengasdengklok, dinilai oleh sejumlah pihak sengaja mendapatkan keuntungan dengan memungut uang parkir kepada siswa-siswinya yang membawa motor ke sekolah.
Kepala TU SMKN 1 Rengasdengklok, Iwan mengakui adanya pungutan sebesar Rp 2.000 per motor kepada siswa yang membawa motor ke dalam sekolah, sebagai uang parkir. Ia pun mengakui uang parkir tersebut digunakan sebagai pengganti dana talangan sebesar Rp 400 juta oleh salah satu Komite sekolah untuk pengurugan lahan parkir motor siswa.
“Dalam 1 hari pengelola parkir hanya mendapatkan paling besar Rp 600ribu sampai dengan Rp 800 ribu dan itupun digunakan untuk mencicil uang dari Komite Sekolah yang sudah digunakan untuk pengurugan lahan, jadi sekolah memungut Rp 2.000 per motor kepada siswa,” ujarnya kepada Spirit Jabar, selasa (1/8).
Sementara itu hal berbeda dikatakan mantan pengelola parkir di SMKN 1 Rengasdengklok, Komar, ia mengaku saat parkir dirinya dipercaya menjadi pengelola parkir pendapatan sehari dari parkir kotornya bisa mencapai Rp 1.400.000 dalam sehari dan dipotong buat kopi dan rokok bersihnya Rp 1.200.000.
‘Jadi bohong kalau sekolah mengaku pendapatan parkir paling besar mencapai Rp 600.000 sampai Rp 800.000, yang saya alami selama menjadi pengelola lebih dari segitu. Patut dipertanyakan kepada sekolah
di kemanakan uang parkirnya?,” pungkasnya. (sep)
————————————-
kunjungi juga halaman media sosial kami di:
