Laos Datangkan Peluang Besar

CIKAMPEK, Spirit
Dalam menjaga hubungan bilateral antar negara ASEAN yang salah satunya antara Indonesia dengan Laos selama 60 tahun, PT Pupuk Kujang Cikampek menerima kunjungan dari Menteri Luar Negeri Laos, Saleumxay Kommasith dan perwakilan dari Kementerian Luar Negeri RI Abdurahhman Muhammad Fachir di ruang Dawuan lantai 3 Gedung Pusat PT Pupuk Kujang Cikampek, Jumat (28/07).

“Kunjungan bilateral tersebut diterima langsung oleh Direktur Utama (Dirut) PT Pupuk Kujang Cikampek, Nugraha Budi Eka Irianto dan jajaran direksi Pupuk Kujang serta perwakilan dari anggota Holding Pupuk Indonesia (Persero),” singkat Manager Humas PT Pupuk Kujang, H Ade Cahya kepada awak media di sela-sela kunjungan bilateral Menteri Luar Negeri Laos ke Indonesia.

Dalam press conference, Dirut Pupuk Kujang Nugraha Budi Eka Irianto menyebutkan, agenda kunjungan itu, membahas terkait peningkatan hubungan bilateral antar kedua negara dan rencana kerjasama Indonesia melalui perusahaan Pupuk Indonesia Group dalam memenuhi kebutuhan bahan baku pupuk NPK.

“Saya meyakini, rencana kerjasama ini nantinya akan lebig menguatkan dan memajukan hubungan Laos dan Indonesia di berbagai bidangnya. Khususnya bidang ekonomi dan pertanian ya. Dan kunjungan ini, di hadiri juga oleh Direktur Teknologi Pupuk Indonesia beserta rombongan delegasi Kementerian Luar Negeri Laos dan rombongan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia,” jelas Dirut Pupuk Kujang yang kerap disapa Anto.

Kunjungan itu, lanjutnya, merupakan tindak lanjut dari peluang investasi penambangan Potassium Chloride (KCL) di negara Laos oleh tim Pupuk Kujang beberapa bulan yang lalu.

“Pemerintah Laos mendukung rencana investasi Indonesia di pertambangan dan industri pupuk,” ungkapnya.

Menurutnya, kondisi saat ini, Laos belum memiliki perusahaan yang bergerak di bidang pupuk, namun Laos memiliki tambang KCL yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku dari pabrik pupuk, sehingga sinergi antara Indonesia dengan Laos daoar lebih efektif kedepannya.

“Kami melihat peluang besar di negara Laos. Saat ini Pupuk Kujang sendiri membutuhkan 70.000 ton potasium setiap tahunnya dan selama inu Indonesia mengimpor potasium dari Kanada dan Rusia, sehingga sudah dipastikan biaya operasionalnya cukup tinggi untuk produksinya. Dengan adanya perusahaan KCL di Laos, sangat memungkinkan dapat menekan biaya lebih rendah karena lokasinya yang lebih dekat,” tambah Anto.

Sementara itu, Dirut Teknologi Pupuk Indonesia, Djohan Safri menambahkan, kerjasama tersebut bisa di wujudkan dalam beberapa konsep, antara lain bisa juga dalam bentuk perijinan pertambangan dimana tambang potasium dikelola oleh PT Antam dan kemudian di olah menjadi KCL oleh Pupuk Indonesia Group.

“Bisa juga dengan membangun pabrik NPK di Laos agar dekat dengan sumber bahan baku, kemudian urea dan fosfat kami datangkan dari pabrik kita di Indonesia dan hasil produksi NPK tersebut kemudian di jual di wilayah negara Laos dan sekitarnya,” tambah Djohan.

Dikatakannya, meskipun bahasan kerjasama tersebut masih dalam tahap penjajakan, namun sudah mendapat dukungan dari pemerintahan di negara Laos sendiri.

“Sudah ada dukungan dari pemerintah Laos dalam meningkatkan hubungan bilateral Indonesia dengan Laos,” pungkasnya. (not)

Cap: Dirut PT Pupuk Kujang, Nugraha Budi Eka Irianto tengah menunjukan hasil produksi Pupuk Kujang di hadapan Menteri Luar Negeri Laos, Saleumxay Kommasith (Kemeja Biru) beserta rombongan delegasi Kementerian Luar Negeri Laos dan Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *