BEKASI, Spirit – Properti menjadi primadona bisnis. Keperpihakan pada kebutuhan masyarakat yang melambungkan bidang bisnis ini menjadi usaha yang diminati investor. Salah satu hal terkait bisnis properti adalah penghasilan (income) yang tidak terbatas.
Pelaku bisnis yang mengakui kekuatan income properti itu adalah seorang Manager Icon City yang berlokasi di Cikarang, Wahyu Supriyanto
Ia yang lahir 28 Maret 1971 mengawali karier di Jakarta tahun 1990 bekerja di sebuah perusahaan pabrik ice cream “mugdalie” dari Pilipina sebelum akhirnya menggeluti dunia properti.
“Dari penilaian kinerja yang bagus, cakap dan terampil maka saya diberikan beasiswa untuk kuliah dan setelah lulus saya beralih ke bagian keuangan,” ujar Wahyu Supriyanto berkisah pada Spirit Jawa Barat.
Sampai tahun 1998 pada saat krisis moneter, dirinya mulai bekerja di Dharmala Int’ Land. “Proyek pertama saya di Menteng Prada pas saat ada kejadian perebutan gedung PDIP pada 27 Juli,” kata Wahyu saat itu dia sedang melaksanakan proyek pertama di samping Stasiun Cikini.
Masih di tahun 1998, Wahyu dipindahkan ke Prapanca sebagai Project Officer pembangunan apartement. “Sampai tahun 2000 saya pindah proyek di Pantai Mutiara juga dalam pembangunan apartemen kemudian resign pada tahun 2008 dari Dharmala Group,” papar Wahyu.
Dari sinilah akhirnya mencoba menjalankan pembangunan sendiri. “main rumah sederhana di Tambun yakni Pesona Modern Satu lantas Pesona Modern Dua kemudian juga ada proyek pribadi di lokasi Cileungsi Bogor,” terang Wahyu.
Usai berhasil menjadi pengembang pribadi, Wahyu diajak bergabung ke SGC (Sentra Grosir Cikarang) sebagai marketing. “Bertahan di Marketing hingga akhir tahun 2008 kemudian saya ditarik menjadi Chief Manager Pasar Baru Square Jakarta selama tiga tahun,” jelasnya.
Kini Wahyu dipercaya menangani dua project sekaligus yakni Icon City dan Cikarang Grand City. “Ada tiga prinsip saat menjadi marketing properti yakni Pertama tidak boleh menzolimi sesama marketing lantas kedua kita harus selalu menghargai costumer ketiga jangan lupa kita bersedekah,” terang Wahyu.
Pengalaman Wahyu di saat dirinya memasarkan properti di atas Rp 2 miliar. “Tiga prinsip inilah yang saya terapkan dan saat closing yang hanya dalam waktu satu jam berhasil mencapai best seller yang sangat didambakan oleh seorang yang berprofesi marketing properti,” bangga Wahyu.
Ketertarikan di bidang properti, lanjut Wahyu karenapenghasilan di bidang properti sangat tidak terbatas. “Jika anda ingin mendapatkan gaji yang tidak terbatas maka bidang properti tempatnya,” tandas Wahyu. Bayangkan jika berhasil menjual apartemen dengan harga ratusan miliar total, maka kita akan mendapat komisi yang sangat besar.
