Tawuran Pelajar Harus Disikapi Serius

BANYUSARI, Spirit – Tawuran antar pelajar yang melibatkan sejumlah anak-anak sekolah SMA maupun SMK khususnya di wilayah Kecamatan Banyusari harus disikapi secara serius. Upaya pencegahan bisa dilakukan dengan tidak hanya melibatkan pihak sekolah saja, akan tetapi peran aktif orang tua siswa serta warga masyarakat begitu besar dalam mengarahkan anaknya untuk tidak melakukan kebiasaan buruk seperti tawuran tersebut.
Ketua PGRI Cabang Banyusari, Ujang Ahmad, S.Pd, mengingatkan tentang seringnya terjadi tawuran antar pelajar menjadi persoalan serius. Jika hal tersebut tidak segera disikapi secara seksama maka dikhawatirkan akan lebih parah. Ia menyarankan, banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengarahkan siswa agar tidak melakukan aksi yang mencoreng nama baik sekolah. Misalnya, kata dia, dengan melakukan pembinaan terhadap siswa serta melibatkan para orang tua.
“Pihak sekolah bersama para orang tua siswa, harus melakukan pengawasan secara langsung serta mengarahkan anak kearah kegiatan yang lebih positif,” ungkap Ujang kepada Spirit Jawa Barat, Sabtu (30/7).
Tak hanya itu, Ujang juga mengajak kepada semua pihak untuk bersama-sama memperhatikan persoalan tersebut. Dengan memberikan anak kewajiban mengikuti kegiatan yang positif, maka anak-akan disibukkan untuk berbuat hal ke arah yang baik.
“Mulai dari sekarang mari kita bangun pendidikan tanpa tawuran. Stop tawuran, dimulai dari hati serta melakukan kegiatan yang positif,” kata guru SDN 1 Gembongan tersebut.
Ditambahkan Ujang, jika menilai tawuran itu adalah perilaku yang tidak baik maka semestinya sudah tidak ada lagi pelajar yang melakukan hal itu. Karena, perilaku tersebut mengedepankan kekerasaan dan sangat tidak cocok dilakukan oleh seorang pelajar sebagai insan terdidik. Oleh karena itu, pelajar harus bisa menjaga diri agar tidak terbawa oleh arus dan kelompok-kelompok yang bisa menyesatkan. Begitupun, tenaga pendidik selaku pelaksana pendidikan terlebih dahulu harus bisa mencerminkan karakter yang baik tanpa kekerasan dan arogansi.
“Memasuki tahun ajaran baru ini merupakan momen yang tepat untuk membuka lembaran baru dan kebiasaan baru yang positif tanpa tawuran, tanpa kekerasan. Untuk bisa memunculkan kualitas mutu pendidikan yang lebih baik lagi,” katanya.
Sementara itu Cecep (55) warga Desa Mekarasih mengatakan, sekarang ini sering terjadi tawuran anak muda berseragam sekolah di lokasi jalan totoang desanya. Mereka seolah sengaja berdatangan hanya sekedar untuk melakukan keributan dan mengganggu ketertiban lingkungan warga.
“Kami muak melihat kelakuan pelajar seperti itu, kaya preman dan bukan anak terdidik. Sering tawuran di sini, atribut sekolahnya SMK. Akibat tidak ada tindakan,jadi kebiasaan tawuran. Pihak sekolah harusnya mengeluarkan siswa yang gemar tawuran,” katanya. (wan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *