PURWAKARTA, Spirit – Pada acara peringatan Hari Jadi Gerakan Pramuka ke 55 tingkat Provinsi Jawa Barat di Taman Pasanggrahan Padjadjaran Purwakarta Rabu malam kemarin (12/10) Kwartir Daerah (Kwarda) Gerakan Pramuka Jawa Barat menciptakan sandi kentongan yang berfungsi sebagai penanda berbagai kejadian atau peristiwa yang terjadi dalam kegiatan pramuka dan masyarakat.
Dalam acara tersebut, sandi kentongan diperkenalkan oleh ribuan anggota pramuka se-Jawa Barat pada malam resepsi. Setidaknya ada sepuluh macam bunyi pukulan berbeda yang menandakan, seperti, isyarat untuk berkumpul, selamat datang, membuat lingkaran besar, tanda bahaya, kebakaran, pergi, tanda butuh pertolongan, dan bubar barisan.
Dalam acara yang berlangsung meriah tersebut tercipta Rekor MURI kategori membunyikan kode morse dengan menggunakan kentongan dengan peserta terbanyak yakni 500 orang dan pertama kali dilakukan dalam gerakan Pramuka di dunia.
Piagam penghargaan pun diberikan oleh MURI kepada Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi dan Ketua Kwarda Jawa Barat Dede Yusuf sebagai dua tokoh yang menginisiasi terciptanya rekor tersebut.
Ketua Kwarda Jawa Barat, Dede Yusuf disela-sela acara mengatakan, sandi kentongan adalah produk budaya lokal yang diciptakan Kwartir Daerah Pramuka Jawa Barat dimana sandi ini bisa melengkapi sandi-sandi yang sudah ada sebelumnya, seperti sandi rumput, angka, dan abjad.
“Di dalam sistem pendidikan kepramukaan, sandi (rahasia atau kode) adalah salah satu keterampilan, selain morse, semapur, peta pita, dan lainnya,” ujarnya.
Dede mengungkapkan, terciptanya sandi ini terinspirasi dari kegiatan membangunkan makan sahur yang dilakukan para pemuda desa selama bulan puasa Ramadan. “Ada kebiasaan anak-anak muda desa di Jawa Barat, setiap waktu sahur membangunkan warga menggunakan kentungan,” ujar Dede.
Dede mengungkapkan, sandi kentungan yang bersumber dari budaya lokal Sunda merupakan yang pertama di Indonesia dan akan diperkenalkan serta dipopulerkan di tingkat nasional,” ungkap Dede, yang saat ini masih menjadi anggota DPR RI.
” Pada saat kentungan tidak dipergunakan bisa difungsikan sebagai alat pengumpul uang recehan atau celengan,” pungkasnya. (riz)
