KITA sungguh dikejutkan dengan peristiwa demi peristiwa yang terjadi di Karawang, belakangan ini. Kita kutip berita yang di harian ini, yang dilansir Senin (11/1). “Seorang pengusaha ekspedisi dump truk batu kapur tewas ditembak orang tak dikenal di Kampung Citaman, Desa Tamansari Kecamatan Pangakalan Minggu (10/1) sekitar pukul 20.00 WIB.
Korban tewas dengan dengan luka tembak di bagian dada dan saat ditemukan sudah terkulai tak bernyawa di dalam mobilnya”. Pada keterangan lainnya disebutkan, pelaku datang berdua menggunakan motor.
Seorang turun dengan santai, lalu menghampiri mobil korban yang terparkir. Sekejap terjadilah penembakan dengan dua kali letusan senjata api (senpi). Usai mengeksekusi, pelaku jalan kembali lalu naik motor yang dikemudikan kawannya. Saksi menggambarkan pelaku begitu dingin saat membunuh.
Keterkejutan lainnya muncul setelah membaca kasus juragan kacang asal Dawuan Tengah, Kecamatan Cikampek harus kehilangan uang Rp 500 juta hasil usahanya yang semula akan disetor ke bank. Penjahat menggondol uang, dengan lebih dulu menjebol paksa pintu rumah korban yang baru saja ditinggal pergi.
Kejadian tersebut tentu menambah daftar panjang kasus-kasus kriminal di Daerah Pangkal Perjuangan ini. Padahal sebelumnya polisi baru saja membongkar kepemilikan empat senjata api (senpi) rakitan milik pelaku perampokan dan begal kendaraan bermotor (ranmor). Satu pemilik senpi rakitan asal Lampung tewas karena melawan dan satu orang buron.
Membaca kasus demi kasus, tidak berlebihan jika Karawang ada pada kondisi waspada kejahatan selain narkoba. Khusus soal penembakan oleh orang tak dikenal terhadap pengusaha dump truk, mungkin masuk pada katagori bukan kejahatan biasa. Tanpa mau melangkahi apa nanti hasil penyelidikan dan penyidikan kepolisian, namun melihat kejadiannya jelas bukan perampokan.
Pasalnya tidak ada barang apapun yang diambil dari korban atau dari mobil Pajero Sport. Motif pelaku tampaknya hanya menghabisi nyawa korban. Ini sungguh sebuah kejadian luar biasa, karena korban terbilang pengusaha yang cukup dikenal.
Mencermati khususnya kasus penembakan, kita seakan tengah berada di era Geng Mafioso di negeri Paman Sam sana. Jika kita membaca referensi kejahatan negeri itu tahun 30-an, 40-an, hingga 50-an, senpi menyalak di jalanan, adalah hal lumrah.
Perang geng adalah jadi fenomena keseharian. Korban bahkan bisa pengusaha, polisi, juga penegak hukum yang tak mau berkolaborasi. Tak ada larangan jual beli senjata, karena ada anggapan warga negaranya yang sudah dewasa, cukup sadar hukum, dan tahu konsekwensi jika senjata disalahgunakan.
Namun negeri koboi itupun kini kelimpungan dengan bebasnya kepemilikan senjata. Senjata makin sering dijadikan alat pembantaian oleh anak-anak dan orang dewasa yang kondisi kejiwaannya labil atau memiliki pemikiran aliran ekstrim.
Presiden AS Obama pun menangis dan meminta agar ketentuan kepemilikan senjata ditinjau ulang agar tidak semakin banyak korban bergelimpanga. Sekarang, di kita pun seolah sedang mengarah ke sana. Ini harus segera dicegah.***