KARAWANG, Spirit
Sebanyak enam anggota Bara Rimba melaksanakan Tahapan Lapangan (TL) Caving dengan menelusuri Gua Miring di Kampung Lio Desa Tamansari, Kecamatan Pangkalan, Kabupaten Karawang, pada 7 Februari 2016.
Sebagaimana disampaikan Rivaldi, Ketua TL Caving Bara Rimba, kegiatan tersebut dimaksudkan untuk belajar dan mendapatkan pengalaman di bidang penelusuran gua bagi anggota muda Bara Rimba.
“Gua yang dijadikan media kegiatan adalah Gua miring, gua ini masuk dalam wilayah Perhutani BKPH Pangkalan. Di sekitar gua tumbuh subur hutan bambu yang dimanfaatkan oleh warga sekitar,” ungkap Rivaldi, Selasa (9/2).
Rivaldi menyebutkan, Gua Miring yang ada di kompleks Bukit Pasir Angin memiliki akses yang dekat dengan Jalan Raya Badami – Loji dan pemukiman warga. Walaupun dekat dengan warga sekitar, hutan bambu dan suasananya
masih asri serta lestari. Bahkan di sana akan sering berjumpa dengan warga yang tengah menggembala ternak dan mencari jamur di sekitar hutan bambu.
“Warga yang ramah dan mudah diajak ngobrol, memberikan kesan pada kami bahwa warga sekitar sudah terbiasa dengan aktivitas para cavers atau
penelusur gua di daerah itu. Sehingga kami merasa tidak asing dan canggung menjelaskan kegiatan kami,” ujar Rivaldi sebagai apresiasi atas keramahan warga Kampung Lio dan sekitarnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan, bukit Pasir Angin yang merupakan perbukitan karst memiliki batuan gamping yang tersebar luas dengan kompleks gua di sekitarnya. Ada Gua Macan, Gua Gede, Gua Miring, Gua Maja, dan Gua Pasir Angin.
“Semuanya sangat menarik untuk ditelusuri karena memiliki elevasi yang vertikal hingga horizontal. Gua Miring sendiri memiliki mulut gua yang vertikal dengan kedalaman 6 meter sampai dasarnya, dengan kemiringan mulai dari 120 – 140 derajat. Hal itulah yang menjadi dasar penamaan gua tersebut disebut Gua Miring,” ujar Rivaldi.
“Sebuah kenikmatan dan tantangan yang diidam-idamkan oleh para cavers di manapun,” imbuhnya.
Rivaldi menceritakan, di dalam Gua Miring dirinya mendapat temuan habitat kelelawar yang mengelompok di sudut-sudut gua serta beberapa jenis serangga khas penghuni gua. Diketahui dari kotoran kelelawar terlihat menumpuk di aula 2 dari Gua Miring. Sedangkan di aula 1 dirinya dihujani oleh tetesan-tetesan air dari langit-langit Gua Miring yang masih aktif.
“Akses lorong dari aula 1 ke aula 2 sangat sulit dengan lubang jarum yang harus dilewati dengan perhitungan yang cermat. Sebelum masuk ke aula 2 kita akan menemukan lubang vertikal dengan kedalaman 3 meter yang menjadi indikasi bahwa aula 2 sering tergenang jika hujan lebat terjadi,” kata Rivaldi.
Rivaldi berharap ke depan akan lebih banyak para cavers dan penikmat olahraga petualangan yang berkegiatan di daerah itu. “Kami ucapkan terima kasih kepada Asisten Perhutani BKPH Pangkalan dan aparat Desa Tamansari terutama wakil Kampung Lio yang telah memberikan izin untuk kami dapat berkegiatan di Gua Miring. Kemudian kepada warga sekitar khususnya serta kepada warga Desa Tamansari yang telah menyambut kami dengan ramah,” ujarnya.(yan)
TIGA orang anggota Bara Rimba saat meneliti salah satu gua yang berada di Pangkalan, Karawang.
Foto: Istimewa