INDUSTRI sepakbola Indonesia kembali dihantui oleh kasus pengaturan skor dan pemain asing ilegal. Kali ini, kasus tersebut terjadi di Kanjuruhan, Malang, dan melibatkan klub sepakbola lokal, Arema FC. Kasus ini menjadi bukti nyata bahwa praktik-praktik curang dan tidak fair dalam sepakbola masih menjadi masalah yang serius di Indonesia dan harus segera ditangani dengan tindakan tegas. Namun, bukan hanya itu, kita juga harus menggunakan kasus ini sebagai momentum untuk memperbaiki industri sepakbola Indonesia secara menyeluruh.
Pertama-tama, kasus ini menunjukkan betapa pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam industri sepakbola. Terungkapnya kasus ini berkat investigasi yang dilakukan oleh Komisi Disiplin PSSI, namun seharusnya tidak hanya bergantung pada investigasi internal klub atau federasi sepakbola. Kita memerlukan lembaga independen yang terpercaya untuk melakukan pengawasan dan pengawalan terhadap kegiatan industri sepakbola, agar praktik-praktik curang dan ilegal dapat terdeteksi dan diberantas.
Selain itu, transparansi dan akuntabilitas juga berarti bahwa semua aspek dalam industri sepakbola harus terbuka untuk umum. Hal ini termasuk keuangan klub, kebijakan transfer pemain, dan proses seleksi pemain. Dengan demikian, masyarakat dapat memantau dan mengawasi kegiatan industri sepakbola, sehingga praktik-praktik ilegal dapat terdeteksi dan dihindari.
Kedua, kasus ini menunjukkan perlunya peran aktif dari pihak berwenang dalam memerangi praktik-praktik ilegal dalam sepakbola. Pemerintah, kepolisian, dan lembaga pemberantasan korupsi harus bekerja sama untuk menindak tegas tindakan korupsi dan pengaturan skor dalam sepakbola. Selain itu, harus ada sanksi yang tegas bagi klub atau individu yang terbukti melakukan praktik-praktik ilegal tersebut, seperti pencabutan izin klub, hukuman pidana, atau denda yang signifikan.
Namun, tidak hanya itu, pihak berwenang juga harus memperkuat perlindungan terhadap whistleblower atau pelapor dugaan tindakan ilegal dalam sepakbola. Pelapor harus dilindungi dari intimidasi dan pembalasan, agar mereka dapat memberikan informasi penting tentang praktik-praktik ilegal dalam industri sepakbola.
Ketiga, kasus ini menunjukkan pentingnya pendidikan dan kesadaran terhadap integritas dalam olahraga. Klub, pemain, pelatih, dan ofisial harus diberikan pemahaman yang jelas tentang pentingnya fair play dan integritas dalam sepakbola. Selain itu, harus ada kampanye dan program-program edukasi yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga integritas dalam olahraga.
Dalam hal ini, peran media juga sangat penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya integritas dalam sepakbola. Media harus memberikan informasi yang akurat dan objektif tentang kegiatan industri sepakbola, termasuk tentang praktik-praktik ilegal yang terjadi. Selain itu, media juga harus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga integritas dalam olahraga.
Keempat, kasus ini menunjukkan perlunya perbaikan struktur dan regulasi dalam industri sepakbola Indonesia. Regulasi yang jelas dan ketat harus diterapkan untuk mencegah praktik-praktik ilegal dan pengaturan skor. Selain itu, struktur organisasi yang transparan dan akuntabel harus diperkenalkan untuk mencegah terjadinya monopoli kekuasaan dan praktik-praktik korupsi dalam organisasi sepakbola.
Dalam hal ini, PSSI sebagai federasi sepakbola Indonesia harus memperkuat peran dan fungsi sebagai regulator industri sepakbola. PSSI harus mampu memberlakukan regulasi yang jelas dan ketat, serta memperkuat pengawasan terhadap klub dan pemain. Selain itu, PSSI juga harus memperkuat transparansi dan akuntabilitas dalamkegiatan industri sepakbola, seperti dengan mempublikasikan laporan keuangan dan kebijakan transfer pemain.
Namun, tidak hanya pada level nasional, regulasi dan struktur organisasi juga harus diperkuat pada level lokal. Klub dan liga-liga sepakbola di daerah juga harus diberikan regulasi yang jelas dan akuntabel, serta diawasi oleh lembaga pengawas yang independen dan terpercaya.
Dalam kesimpulan, kasus sepakbola di Kanjuruhan harus dijadikan momentum untuk memperbaiki industri sepakbola Indonesia secara menyeluruh. Kita harus bekerja sama untuk memperkuat transparansi dan akuntabilitas, memerangi praktik-praktik ilegal, meningkatkan pendidikan dan kesadaran terhadap integritas dalam olahraga, dan memperbaiki struktur dan regulasi dalam industri sepakbola. Dengan demikian, kita dapat membangun industri sepakbola yang lebih fair, profesional, dan berkualitas, serta mengembalikan kepercayaan masyarakat pada sepakbola Indonesia.
Namun, semua tindakan yang diambil harus dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan, serta didukung oleh semua pihak terkait, baik dari pemerintah, klub, pemain, pelatih, ofisial, media, maupun masyarakat. Hanya dengan kerja sama dan komitmen yang kuat, kita dapat menciptakan industri sepakbola yang sehat dan berkualitas di Indonesia. (*)
Oleh: Muhamad Yoga Al Haj, S.Pd (Magister Penjas, Universitas Singaperbangsa Karawang)