Komentar Ngacapruk Siklus  12 (tahun) Pas !

Piala Eropa, Senin,(11/7) dinihari geunjleung, pertemuan Perancis – Portugal  pada final memperebutkan mahkota bola Eropa 2016 memecahkan mitos siklus 12 tahunan. Pertandingan yang berlangsung di  Stade de France – berseberangan dengan gereja Basilika Saint-Denis – merupakan pertemuan ke-25 tahun ini. Mitos itu adalah negara kecil dan underdog  akan keluar sebagai juara. Doa warga Perancis di “katedral” Saint-Denis sehari sebelumnya, yang berbaur dengan suporter Portugal, merasa yakin mereka akan menggondol piala Eropa.

Magnet bola menyedot perhatian  pecintanya, bola sudah menjadi kuasa kegilaan. Perhatikan para suporter. Dengan kostum yang nyeleneh menyemarakan pertandingan sepak bola. Paras yang dicoreng moreng laiknya body painting. Dan bola adalah seni. Dengan trik-trik permainan, menata penyerangan,susunan pemain dan kostum kesebelasan pun menjadi seni tersendiri. Kadang bola menjadi absurditas, karena bundarnya. Prediksi  boleh saja gagah,kesebelasan anu dapat mengungguli lawan anu. Tengok pertandingan semi final Jerman-Perancis, Joachim Loew jumawa –  percaya diri pisan  bisa melibas Perancis. Prediksi, Jerman di atas angin. Faktanya, Jerman 0-Perancis 2 ! Itulah absurditas si kulit bundar.

Orang Perancis mempunyai slogan  l’histoire serepete – sejarah seperti selalu terulang – akan dapat mudah menggusur Portugal. Sejarah berbicara laga pertemuan Perancis-Portugal sejak 1926 , Perancis selalu memenangi pertandingan. Dengan total kemenangan 18 kali,kalah 5 kali dan sekali imbang atas Portugal.

Tak kalah Portugal pun merangkai kalimat maut, the past is history,the future is victory – masa lalu adalah sejarah,masa depan adalah kemenangan – dan itu menjadi penanda kemenangan atas Si Ayam Jantan, Perancis. Sejarah adalah sejarah, daya tarik sepak bola telah merasuk ke segenap penggemarnya. Termasuk para penjudi – kakap atau teri –  kecele, pada final Piala Eropa 2016, Perancis ngepur Portugal.

Sejarah sepak bola bergulir (peristiwa mundur)  pada puncak Piala Eropa 2004 di Portugal. Ketika itu kesebelasan underdog – tak diunggulkan – memenangi laga bergengsi. Portugal dipecundangi Yunani 0-1 pada final Piala Eropa di Estadio da Luz, Lisabon. Dan siklus 12 tahunan itu, tahun 2016 ini menjadi mutlak milik tim Selecao das Quinas, Portugal.

 

Marwah  – Mencuri gol

Kokok Ayam Jantan (Perancis)  pada dinihari itu tak terdengar santer. Sekalipun jago-jagonya melesak menyerang ke pihak lawan. Pada menit ke-91,Gignac mencoba menerobos pertahanan Portugal , tendangan kerasnya membentur tiang gawang Rui Patricio . Kendatipun pada babak pertama tim Selecao das Quinas (Portugal) pada menit ke 25.58’ kehilangan mega bintangnya, Cristiano Ronaldo (C), harus ke luar lapangan, karena kaki kirinya cidera. Kesempatan peluang kemenangan tak termanfaatkan dengan maksimal oleh Tim Les Bleus. Perancis merangsek serta menteror  – tentunya dengan dukungan penonton sebagai tuan rumah – tetap saja skuad yang di motori oleh Si Innocence  –  Antoine Griezmann – dan kawan-kawan tak kuasa membobol gawang lawan.

Hingga akhir babak kedua tak satu pun gol tercipta.  Laga puncak ditaburi kartu kuning. Cedric Soares diganjar kartu kuning pada menit 34, disusul Joao Mario di menit ke-62. Sampai perpanjangan waktu 2×15 menit, permainan semakin alot. Lagi-lagi pemain Portugal mendapat peringatan kartu kuning, sayap kiri belakang, Raphael Guerreiro di menit ke-95, berikutnya Carvalho pada menit 97. Tak kecuali pemain Perancis pun mendapat kartu kuning , Matuidi,Kosceilny, Umtiti dan Fogba.

Menjelang menit-menit akhir pertandingan, serangan kilat Portugal merangsek pertahanan Perancis. Tiba-tiba Eder – yang masuk pada babak kedua – tak mendapat pengawalan ketat dari Perancis, leluasa ( nepi ka bengkung-bengkung) menjebol sisi kanan gawang Lloris. Gooll !! Tendangan geledek Eder membuat keder lawan, Griezmann, Paul Pogba dan kawan-kawan olohok mata simeuteun. Gol menit ke-109 Portugal, meruntuhkan marwah Perancis. Sebab menjelang pertandingan, Perancis diprediksi bakal memetik mahkota Piala Eropa untuk yang ke-3 kalinya (Piala Eropa 1984 dan Piala Eropa 2000). Marwah itu berhasil “di curi” oleh Portugal dengan tendangan pamungkas pada babak akhir perpanjangan waktu. Fernando Santos pelatih Portugal – mulai menggembleng skuadnya,24 September 2014 – berkaca-kaca di tribun penghormatan ketika Cristiano Ronaldo mengangkat Piala sebagai lambang supremasi sepak bola Eropa.

Slogan Portugal “the past is history, the future is victory”, menjadi kenyataan. Walaupun Portugal pada Piala Eropa 2016 diposisikan underdog. Bola itu bundar. Yang menentukan juara adalah gol ! Tentunya siklus 12 tahunan adalah fenomena dan “sihir” hiburan persepakbolaan. Bravo Selecao das Quinas !

Oleh : Pupung Prayitno

*Penulis adalah Perupa, Tinggal di Karawang.

Cap : 1. Foto diri Pupung Prayitno.

            2.Foto Illustrasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *