SEPERTINYA pendidikan berkarakter berbasis kebudayaan yang diterapkan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi di setiap jenjang pendidikan di daetah ini mulai menuaikan hasilnya. Pola pendidikan tersebut mengajarkan anak tidak melulu belajar di kelas melainkan lebih pada produktivitas.
SMAN 1 Campaka yang menerapkan sistem pendidikan tersebut, Senin (29/8), menggelar Panen Raya hasil dari yang mereka kerjakan selama ini di sela-sela kegiatan belajar mengajar. Panen tersebut digelar di halaman samping dan belakang sekolah pada lahan produktif seluas kurang lebih 4.800 m2.
Kepala SMAN 1 Campaka, Ny Nur Aisyah Jamil, saat ditemui Spirit Jawa Barat mengatakan, panen kali ini menghasilkan 6 kuintal padi, 72 kg mentimun, kacang-kacangan, cabe, jagung, dan kangkung yang mereka tanam sejak empat hingga lima bulan yang lalu.
“Alhamdulillah ini panen kedua kita, yang pertama kita panen ikan di kolam sebelah sekolah,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, dalam program pendidikan berkarakter yang diterapkan di sekolahnya anak-anak per kelas diberi tanggung jawab untuk mengelola sebidang tanah, yang harus dikelola hingga menghasilkan sesuatu bernilai ekonomis, sesuai dengan mata pelajaran yang mereka dapatkan di kelas. “Dari dulu kita belajar biologi yang kerjaannya meneliti toge terus. Tapi sekarang kita bisa meneliti padi atau kangkung dan tanaman lainnya mulai dari menanam hingga proses panen.”
Selain itu panen kali ini pun menjadi bagian dari pelajaran lingkungan hidup yang berkesinambungan dengan ekstrakulikuler pertanian dan tata boga. Hasil panen kali ini akan menjadi bahan masakan bagi pelajar yang mengikuti ekstrakulikuler tata boga.
Sementara sisa panen lainnya akan dijual pada orang tua siswa terutama yang memiliki usaha rumah makan. Uang hasil penjualan tersebut akan digunakan kembali sebagai modal membeli bibit dan pupuk untuk masa tanam selanjutnya.
“Tadi anak-anak yang orang tuanya punya rumah makan kita distribusikan dua kilo timun. Nanti uang hasil penjualan digunakan lagi untuk membeli bibit, benih ikan, pupuk, dan kebutuhan lainnya,” katanya.
Sementara itu Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, mengatakan, program full day school yang dicanangkan oleh pemerintah pusat seharusnya mengacu pada produktivitas bukan terus menerus belajar di dalam kelas seperti yang dilakukan di daerah ini.
Dengan pola pendidikan seperti itu anak-anak tidak hanya menguasai praktik namun juga menghasilkan masa depan yang produktif. Berbeda dengan anak yang sejak pendidikan awal sudah dijejali oleh kemajuan teknologi namun tidak produktif dan malah konsumtif.
Tidak hanya itu, lelaki yang akrab disapa Kang Dedi ini juga menjelaskan, saat ini banyak pelajar yang harus belajar menggunakan laptop dan produksi yang dihasilkan dari gaya semacam itu. Yang dibutuhkan bukan kesombongan dalam proses serba IT, melainkan target pembentukan karakter.
“Kalau mau jujur-jujuran kan IT di kita malah mengajarkan anak konsumtif tidak produktif,” ujarnya.
Dedi berharap program pendidikan berkarakter yang dia terapkan di Kabupaten Purwakarta bisa membuat anak-anak menjadi produktif dan mengalihkan hal konsumeris seperti bermain hp dan memakai kendaraan sebelum memiliki SIM. “Bayangkan ini hasil panen satu sekolah. Kalau satu desa, satu kecamatan apalagi satu kabupaten berapa yang bisa dihasilkan. Inilah yang diharapkan dari pendidikan berkarakter berbasis kebudayaan.”(rizal/spirit karawang)
