KARAWANG, Spirit
Meski pembangunan Pelabuhan Cilamaya masih belum jelas, 60 persen tanah di Desa Ciparage Jaya Kecampatan Tempuran telah dikuasai spekulan tanah. Bahkan harga tanah melonjak 200 persen dari Nilai Jual Objek
Pajak (NJOP) yang ditetapkan.
“60 persen dikuasai spekulan tanah sejak 2013 lalu, seiring muncul kabar akan dibangun pelabuhan,”ujar Kepala Desa Ciparage Jaya, Kecamatan Tempuran, Kabun, saat di temui Spirit Karawang, Minggu (21/2).
Spekulan tersebut, kata dia, merupakan spekulan lokal maupun dari luar kota. Hanya saja, hingga saat ini pihaknya belum mengetahui adanya spekulan asing. “Selama menjabat kurang lebih selama satu tahun, saya
belum melihat ada spekulan asing,” tandasnya.
Akibat banyaknya spekulan yang masuk ke daerahnya, harga tanah melonjak drastis hingga 200 persen dari NJOP. Berdasarkan NJOP, tanah di Kecamatan Tempuran khususnya Desa Ciparage Jaya Rp 5 ribu per meter. Akan tetapi sekarang ada yang Rp 100 ribu permeter. “Sempat ada isu akan ada perubahan NJOP, tetapi sampai saat ini belum ada kabar,” tandasnya.
Kades mengatakan masyarakat di desanya masih berharap pelabuhan jadi dibangun di Karawang. Sebab, hadirnya pelabuhan penyangga Tanjung Priok itu dipandang berpotensi meningkatkan perekonomian Karawang, khususnya masyarakat sekitar.
“Masyarakat masih berharap Pelabuhan Cilamaya jadi dibangun. Karena diperkirakan akan menyerap tenaga kerja,” katanya.
Bahkan, Kabun menilai pelabuhan bisa menjadi potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Pangkal Perjuangan dan dapat mengurai kemacetan. Sehingga menurutnya pembangunan pelabuhan akan menguntungkan banyak pihak. “Kemacetan bisa terurai dan cost industripun ikut berkurang,”katanya.
Akan tetapi, imbuhnya, jika pembangunan menimbulkan penggusuran pemukiman warga secara besar-besaran ia akan menolak. Sebab, menurutnya penyesuaian ditempat baru tidak mudah. Terlebih, selaku kepala desa, ia merasa bertanggungjawab terhadap nasib warganya. (yan)