WARGA Karawang hari-hari belakangan disuguhi berita sosok di seputaran pemerintahan. Salah satunya tentang Sekretaris Daerah (Sekda) Karawang Teddy Rusfendi resmi meninggalkan rumah dinas sekda (RDS) di Jalan Soka Karawang yang tak jauh dari Stadion Singaperbangsa, Sabtu (30/1) lalu. Teddy Rusfendi kembali ke rumah pribadinya di Jalan Ciliwung Raya, Adiarsa, Kelurahan Adiarsa Barat. RDS harus segera dikosongkan karena akan dijadikan rumah dinas wakil bupati (RDWB).
Disebut-sebut, kepindahan Teddy ke rumah pribadinya terkesan mendadak, setelah diawali kunjungan Calon Bupati Terpilih Ahmad “Jimmy” Zamakhsyari ke bakal rumah dinasnya. Bahkan digambarkan pers, Jimmy sempat mereka-reka untuk menata ruangan. Merasa tak enak atas pemberitaan itu, Teddy pun meminta maaf kepada Jimmy atas pemberitaan kepeindahannya ke rumah pribadi.
Teddy mengungkapkan, kepindahannya sudah direncanakan sebulan sebelumnya setelah ada pembicaraan dengan Calon Bupati Terpilih Cellica Nurrachadiana. Intinya Cellica tidak akan pindah dari rumah dinas wakil bupati (RDWB) yang selama ini ditempatinya semenjak jadi wakil bupati hingga diangkat plt bupati. Ia akan menjadikan rumah tersebut sebagai rumah dinas bupati (RDB). Oleh karennya RDS diminta untuk dijadikan RDWB. Menurut Teddy sendiri, RDS akan dibangun di bekas gudang tak jauh dari RDS. Kapan itu dibangun? Entahlah, karena dalam RAPBD murni 2016 tidak mencantumkan anggaran untuk RDS.
Terlepas dari apa yang melatari kepindahan Teddy ke rumah pribadi dan ada yang menuding Jimmy tidak sabaran, pertanyaan kita adalah, bagaimana dengan rumah dinas bupati (RDB)? Mengapa rumah yang pasti dibangun dengan uang rakyat tersebut tidak dimanfaatkan? Kurang baguskah rumah tersebut? Jika demikian, rasanya tidak masuk akal. Secara hirarki, kedudukan bupati jelas lebih tinggi ketimbang wakil, apalagi dengan sekda. Dengan demikian rumah dinasnya pun sudah pasti lebih bagus, atau sekurang-kurangnya lebih besar dari sisi ukuran. Kita bisa memaklumi itu lantaran menyangkut soal wibawa. Tapi mengapa tidak dipakai? Bahkan katanya sempat tidak digunakan juga di era Dadang S Muchtar ketika menjadi Bupati Karawang.
Kabar agak ganjil menyeruak ketika rumah itu dihembuskan berbau mistis. Konon rumah itu berpenghuni makhluk gaib dan bawaannya sial. Contoh ketika almarhum Bupati Karawang Ahmad Dadang terkena musibah, katanya gara-gara tinggal di RDB. Begitu pula dengan Ade Swara, tak merampungkan jabatannya lantaran “berani” tinggal di RDB. Oleh karenanya ketika Cellica tak mau pindah ke RDB, pun lantaran takut terkena kutukan sial itu. Benarkah itu? Ini perlu dikonfirmasi.
Hanya saja jika keyakinan terhadap mistis tersebut dipegang teguh para petinggi Karawang, ini sangat disayangkan. Hal yang pasti, kita telah memubazirkan aset yang dibangun dari hasil keringat rakyat. Jangan-jangan nanti berkembang kepercayaan Kompleks Perkantoran Bupati Karawang membawa sial, lalu harus dibangun kompleks perkantoran yang baru. Jika demikian, kita hanya akan disibukan oleh urusan mistis bukan bagaimana membangun daerah!***