BANYUSARI, Spirit – Warga masyarakat meminta kepada aparat penegak hukum untuk mengungkap kasus dugaan ijasah paket B aspal (asli tapi palsu) yang dilakukan oleh pengelola Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) Harapan Proklamasi yang beralamat di Desa Cicinde Selatan Kecamatan Banyusari.

Pemalsuan ijasah paket B aspal atas nama Edi Guntara warga Desa Cicinde Utara Kecamatan Banyusari terjadi tiga tahun lalu, namun baru diketahui sekitar enam bulan kebelakang, saat Edi selaku korban yang sekolah di SMK PGRI Jatisari hendak mengikuti ujian nasional (UN) tapi tidak diperbolehkan. Pasalnya, pihak sekolah menilai ijasah paket B milik korban yang digunakan untuk mendaftar sekolah tidak terdaftar alias bodong.
Menurut seorang aktifis peduli pendidikan Karawang, Herman Topik, sudah menjadi kewajiban pihak aparat kepolisian untuk mengungkap kasus pembuatan ijasah aspal tersebut. Karena perbuatannya sudah dianggap melawan hokum. Selain memalsukan dokumen negara dan menipu seorang warga, pelaku juga menyalahgunakan kewenangan selaku pengelola PKBM.

“Kami berencana akan melaporkan kejadian ini pada Polres Karawang. Kasus ini harus diungkap dan bila terbukti bersalah pelakunya harus ditangkap serta diadili sesuai dengan undang-undang yang berlaku,” katanya.
Kata Herman, sebagai warga merasa terpukul atas kejadian tersebut dan merasa tidak terima atas kelakuan pelaku yang sudah mencoreng citra pendidikan.
Bila pihak aparat kepolisian tidak menindak serta membiarkan kasus tersebut khawatir bakal terulang kembali dan memakan korban berikutnya. “Harus ditindak, bukan hanya diselesaikan secara musyawarah. Karena ini pidana bukan perdata. Pungli saja ditindak tegas masa kasus ini mau dibiarkan begitu saja, keenakan si pelaku dong,” katanya.
Hal senada disampaikan Ketua Laskar Anti Korupsi Indonesia (LAKI) Kabupaten Karawang,Yanto. Pihaknyapun berencana akan melakukan hal yang sama agar pelaku pembuat ijasah aspal diganjar hukuman.
“Kasusnya penipuan dengan modus pendidikan luar sekolah alias non formal. Yang dirugikan bukan hanya si korban, tapi juga negara. Tidak menutup kemungkinan bukan hanya Edi yang menjadi korban. Untuk mengetahuinya harus diusut tuntas,” katanya.
